Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, May 24, 2013

jejak misterius

Cerpen Agustinus Umbu Hemba
HARI minggu, merupakan hari yang paling kami tunggu, hari kebebasan kami dari dunia pendidikan, hari kemerdekaan bagi anak-anak kampung Kahale, hari bermain !

Aku, Ardi, Bento dan Guto, sudah menyiapkan peralatan, hari ini kami akan  mencari ubi hutan di sekitar Hutan terlarang. Ini diluar jadwal kami minggu lalu, jadwal awalnya kami akanbermain Pasola, karena persedian makanan dirumah habis, memaksa kami untuk mencari ubi hutan disekitar Hutan Terlarang.

Kami bergegas ke hutan terlarang, sekitar hutan terlarang sudah kami sangat kenal, hampir setiap hari,sepulang sekolah, kami mencari ubi hutan, bahkan jejak hewan atau manusia bisa kami bedakan lama atau baru. Namun satu hal yang tidak pernah kami ketahui adalah hutan terlarang, setiap orang dilarang masuk kedalam, mencari ubi hutan pun hanya di sekitar hutan tidak perbolehkan melewati garis pembatas.

Menurut cerita ayah dan ibu, hutan itu hanya tua adat dan para rato marapu yang boleh masuk, itu pun setahun sekali atau ada acara adat atau semacamnya, jadi sebelum ritualkan dilaksanakan harus minta restu dari leluhur yang tinggal dalam hutan tersebut. Lain hal dengan acara ritual penyembuhan orang sakit atau yang masih ringan, cukup memberikan persembahan didalam kampung, karena dalam kampung sudah ada altar yang sudah disiapkan, bahan-bahannya diambil dari hutan terlarang tersebut.
                    ***
Sang surya  sudah tepat diatas kepala kami, namun ubi yang kami cari belum banyak. Aku mulai gelisah, cacing dalam perutku mulai mencabik sedikit demi sedikit isi perutku, sehingga rasa sakit.
" Rangga, sini sebentar". Ardi memanggilku.

"Ada apa?".

"Kamu perhatikan jejak ini, masuk dalam hutan".

"Ini jejak orang dewasa, tapi ada jejak sepatu juga".

"Bukankah ritualnya masih satu minggu lagi?".

"Betul".

"Itu jejak orang asing, tua adat dan para rato tidak menggunakan alas kaki".
Kami dilanda kegelisahan, jejak-jejak itu membuat kami tidak tenang, hutan itu adalah hutan yang sangat angker, bahkan setiap pinggir hutan sudah  di pasang papan pemberitahuan serta batas yang boleh dimasuki dan tidak boleh dimasuki.
Kami memutar kearah timur, tapi hal yang buat kami terkejut, semakin banyak jejak yang masuk dalam hutan.

"Rangga, bagaimana ?, harus kita laporkan di ketua adat".

"Jangan! kita ikuti jejak-jejak itu".

"Apa? Kau gila, apa kau mau mati dihutan itu".

"Jangan jadi pengecut, ayo kita ikuti".

"Tidak mau!, Guto dan Bento tampak protes".

"Dasar pengecut".

"Ayo Ardi, kita masuk".

Didorong oleh rasa penasaran yang begitu besar, aku dan Ardi mengikuti jejak-jejak
itu. Dan jejak-jejak itu makin jelas. Kurang lebih sudah satu jam kami mengikuti jejak-jejak tersebut,hutan itu semakin lebat, berbagai macam tumbuhan ada di situ dan pohon-pohonnya sangat tinggi dan besar. Nyali kami agak kecut, suasananya sangat sepi. Mulut Ardi tampak komat-kamit  membaca mantra. Kami harus hati-hati agar tidak tergores semak berduri.

Di tengah hutan kami melihat seekor babi hutan dililit ular piton yang angat besar, tanpa di beri aba-aba kami lari terbirit-birit. Kami terus berlari tanpa menghiraukan semak belukar di depan. Ketakutan kami lebih kuat pada goresan semak belukar. Sambil terengah-engah  kami mengatur napas di bawah, napas kami belum teratur, dikejutkan dengan suara sayup-sayup dan suara itu semakin jelas.

Kami mengendap-endap mencari sumber suara itu. Di depan kami ada sebuah goa, disisi kanan dan kiri dibangun gubuk kecil, semacam rumah jaga. Aku dan Ardi saling pandang, dan jelas wajah kami pucat.

" Masih ada keberanian ?." ardi menantangku.

" Karena kita sudah di sini, harus tahu apa yang terjadi".

" Ayo masuk !".

Aku dan Ardi terus masuk dalam goa, suara yang kami dengar sudah lama menghilang, kami semakin jauh masuk kedalam, tidak bisa lagi membedakan malam dan siang, goa itu hanya diterangi beberapa obor dan lampu pelita. Dan hal yang tidak dapat dipercaya, kami menemukan ruangan yang besar, serta altar pemujaan yang besar, altar itu sangat mirip dengan altar di desa kami untuk menyembah arwah leluhur, yang membedakannya altar ini lebih besar dan diapit dua batu pipih yang besar, yang biasanya untuk menyimpan persembahan.

Saat aku dan Ardi mengamati altar, dari kejauhan kami mendengar suara orang,
mungkin sekitar 6 atau 7 orang, mungkin juga lebih. Kami segera sembunyi di batu besar. Selang beberapa saat, kami melihat beberapa bayangan manusia muncul dari sisi kiri dan kanan altar. Gerombolan itu dengan serentak menghadap altar lalu duduk bersila, keadaannya menjadi hening, seorang laki-laki  berdiri dan menyalakan
beberapa obor, ruangan  menjadi terang.

Aku dan Ardi seperti disambar petir di siang bolong dan kami tidak yakin, apa yang disaksikan. Mata kami melotot ke-empat sosok bayangan, wajah mereka tampak berseri-seri. Belum habis rasa kaget, dari belakang altar muncul sosok bayangan manusia penuh dengan wibawa dan karisma yang sangat kuat, aku dan Ardi muncul rasa kagum pada sosok tersebut. Sosok itu tersenyum, lalu duduk bersila menghadap gerombolan manusia itu. Di belakangnya ada beberapa sosok bayangan manusia yang sangat kami kenal. Secara serentak orang-orang mencium tangannya, lalu kembali  tempat masing-masing.

" Rangga, kenapa orang tua kita disini ?".

" Sssttt..bukan Cuma itu, lihat di belakangnya, kepala desa, tua adat dan para rato
juga ada !"

" Jadi ini alasan, kita dilarang mauk dalam hutan ?".

" Entalah".

Sosok itu sangat tenang, wajahnya putih bersih, dan berseri, suasana hening kembali. Secara perlahan menutup kedua matanya, mulutnya komat-kamit, sekitar lima belas menit kemudian, ia membuka matanya, dan tersenyum.
"Hari ini permintaan akan dikabulkan ".
"Hidup yang mulia......".

"Saudara-saudaraku, tolong sebut permintaannya satu per satu".

"Aku ingin kaya ".

"Aku ingin panen yang melimpah".

"Aku ingin naik jabatan "

"Aku ingin menang judi".

"Aku ingin usahaku sukses".

"Aku ingin angka bagus".

"Ruangan menjadi gaduh.

"Rangga bagaimana ini ?".

"Aku tidak mengerti apa yang terjadi !".

Pembicaraan kami belum habis, tampak bayangan manusia berdiri disamping kami berdua, wajah kami pucat, belum sempat berpikir, secepat terkaman macan, sosok itu mencoba menangkap kami. Sekuat tenaga kami berlari, dua orang itu terus mengejar kami,hingga kami kehabisan tenaga, aku dan Ardi jatuh saat melewati jalan agak curam, kesadaranku menipis tapi masih empat melihat Ardi yang pingsan karena kepalanya terbentur batu, sedangkan dua orang sosok manusia sudah berdiri di sampingku. *

BIODATA
Nama:    Agustinus Umbu Hemba
Alamat:    Jalan Elang No.2 RT/RW 001/001,Kel.Bonipoi
Pekerjaan:    -
Alamat email:    agustinus_umbuhemba@ymail.com

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

cinta 1 april

Cerpen Aries Rabu

IAN, gadis belia yang  masih duduk di bangku SMA kelas satu. Parasnya ayu, rambutnya lurus, menjadi mahkota pemikat sang arjuna. Kulit sawo matang  membuatnya tampak sebagia orang Flores asli. Bibirnya meronan nan buah delima. Bola matanya bening bagaikan permata. Ia tampak cantik dengan gaun yang dikenakanya.

Itulah Ian, nama  yang  ku dengar dari mama asuhku, ketika ku melihat gambar yang ada di ponselnya. Mama dia orang mana? Tanya ku. Dia orang dari kampung ini. Jawab mama. Kok saya tidak pernah lihat, padahal sudah empat hari saya berada di sini. Tanya ku lanjut. Lalu jawab mama, dia masih di Ende, mereka baru mulai libur besok.  Jadi besok dia akan ke sini. Aku sangat senang mendengarnya. Aku bisa bertemu dan berbincang-bincang denganya nanti.

Tatapanku kosong, pikiranku diselimuti oleh gadis yang ku lihat di ponsel tadi. Hembusan angin yang menghampir telinga hanya mebawa nama Ian. Sehingga aku tak lagi menghiraukan mama yang asik bercerita bersama bapak dan Prima. Melihat tatapanku yang kosong dan penuh kayalan, serentak mereka berteriak "Woe". Aku terkejut dan dengan spontan ku bertanya "mana Ian?". Hahahahhaha, terbahak-bahak mereka menertawaiku. Untuk menutupi kemaluanku. Aku turut tertawa bersama-sama dengan mereka.

Setelah tawaria itu. Aku bertanya "kenapa kamu bertiga tertawa terbahak-bahak, apakah pertanyaanku tadi begitu lucu? Sudah tau kok nanya. Jawab mereka. Aku tersenyum sendiri. Tapi aku senang karena di hari ini aku sudah membuat mereka ketawa. Dalam sebauh tulisan bijak yang pernah ku baca,, bunyinya `sekali ketawa usia bertambah'. Jadi usia mereka di hari in telah bertambah. Tapi aku tak mau terus membuat mereka tertawa, nanti keburu tua dan akhirnya mati. Pikir jailku.

Waktu terus bergulir. Sang surya kembali ke peraduaanya. Sang rembulan menyonsong kegelapan. Bintang-bintang bertaburan di angkasa, menerangi bumi dan menghiasi langit. Yang memeberi kepastian adanya kecerahan di malam ini. Desiran angin malam menyusuri cela-cela dinding yang terbuat dari pelupu. Lalu masuk menerobosi tubuhku melalui pori-pori. Mengusikku yang lagi asik bercandaria bersama bapak, mama dan Prima serta Desta.

Namun suasana semakin damai tat kala keceriaan kami ditemanai jagung  goreng yang masih hangat, yang disiapkan oleh mama sepuluh menit yang lalu. Di malam ini sengaja televisi tidak dibukakan, agar suasana kebersamaan kami lebih berasa. Dan  HP pun dimatikan sehingga kami benar-benar terbawah oleh pertemuan ini. Kami semua berpartisispasi dalam kebersamaan ini. Berbagi pengelaman dan kisah lucuh yang pernah dibuat atau dirasakan pada masa lalu.

Bapak yang memeulai cerita, kemudian disusul mama lalu Prima. Aku dan Desta hanya menyumbangkan tawa.
Jam bundar yang bergantung di dinding bagian kiri, telah menunjukan pukul 08.30. Jagung goreng yang disajikan mama, kini telah ludes dilahap. Aku memegang perutku, pertanda masih ada ruang kosong yang belum terisi. Lalu mama bertanya padaku

"Abu, perut kamu kenapa, masih lapar ya?" Lalu candaku sambil tertawa, hmmmm kastau ngga ya? Hahahaaha. Mama memukul manja aku, dan kemudian bersamaku berjalan menuju dapur, meninggalkan bapak, Prima dan Desta yang masih tertawa, karena ulahku. Mama menyiapkan nasi, sayur dan ikan panggang di meja. Sedangkan saya menyiapkan piring dan pasangannya yakni gelas dan senduk serta peralatan makan lainnya yang akan digunakan kami berlima.

Setelah menyiapkan semua, satu per satu bangkit berdiri menuju meja perjamuan. Bapak memimpin kami menuju kesana. Sehabis mengambil makanan sesuai dengan porsi masing-masing, kami kembali ke pesisi duduk semula. Semuanya siap disantap.

Namun tidak mengurangi rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa, yang telah memberikan kami kehidupan serta makanan secara cuma-cuma, Prima memimpin kami dalam doa perjamuaan. Dia lah yang paling kakak dari saya dan desta. Sehingga ia pantas memeimpin kami dalam doa. Doa pun selesai. Ucapan selamat makan terlontar dari setiap mulut. Lalu seduk yang dipenuhi nasi dan kawan-kawananya diiring menuju ke mulut. Dan melahap muatan yang ada padanya.

Sambil menyelam, minum air. Pepatah yang mengajak kita untuk tidak hanya melakukan satu aktivitas saja. Oleh karena itu sambil makan kamipun bercerita dan merencanakan kegiatan untuk hari esok.  Salah satu perencanaan kegitaan yang akan dilakukan besok adalah pergi ke pantai. Karana bapak sukanya memancing, maka kamipun setuju. Piring telah tak terisi, makan yang ada sudah dihabiskan. Saatnya mengakhiri perjamuan dengan memanjatkan doa pada Dia yang telah menemani kami dalam perjamuan ini, seraya memeohon perlindungan dalam tidur nanti. Kini saya yang dipercayakan untuk mengakhirinya. Sayapun menjalankan apa yang telah dipercayakan.

                            ***
Hari ini adalah hari rabu. Cuacanya sangat bersahabat, mendukung perencana kami semalam. Bapak mempersiapkan peralatan yang akan dibawa, aku dan Prima mempersiapkan bekal untuk dibawa nanti. Sedangkan mama dan Desta memilih untuk tidak ikut bersama kami ke pantai. Sekitar pukul  08.00 kami berangakat dengan berjalan kaki. Jalan dari rumah ke pantai sekitar 5 km, namaun enaknya  jalan kesana itu menurun.

Sehingga tidak terlalu menguras tenaga. Waktu yang diperlukan sekiatar 30 menit. Maka pukul 09.30 kami sudah di pantai. Bebatuan memadati pesisir pantai sehinga pasir pun sedikit yang kelihatan dan ombak di pantai selatan begitu besar tak seperti di pantai utara yang lautnya agak tenang.

Namun panorama di pesir pantai begitu indah. Desiaran ombak mengingatkan aku akan gadis yang ada di hp mama. Di bawah rumah kecil tempat perahu berparkir. Ku mengambil daun kelapa yang berada disapingnya, lalu membentangkan di bawah rumah kecil yang beratapkan daun kelapa. Ku membaringkan badanku di atas dedaunan kelapa ini. Kembali si kulit sawo matang itu memikat pikiranku. Kata mama hari ini ia akan datang. Jadi ditemani angina pantai ku memasang siasat untuk bertemu denganya.

Sore pun menjemput kami. Sekitar jam 03.30 aku mengajak bapak dan Prima untuk pulang. Mereka menuruti permintaanku. Lalu kami pulang dengan membawa hasil pancingan bapak. Sesampainya di dekat jalan raya, kami mennggu oto yang sedang dalam perjalanan menuju ke kampung. Pikiranku kembali tertuju pada gadis itu. Oto pun tiba dihadapan kami. Ada penumpang yang turun di situ.

Lalu kami bertiga menumpang dengan oto itu menuju ke kampung. Ada sepuluh orang penumpang selain kami. Di bangku bagian depanku ada tiga cewek, duanya berbadan besar dan kelihatan lebih tua dariku. Sedangkan yang satunya lagi berbadan kecil. Rambutnya lurus, sesekali hembusan angina mengocar-ngacirkan rambutnya.  Jalan berlubang mebuat oto teroleng. Dan gadis berbadan kecil yang berada di hadapanku turut teroleng dan hampir terjatuh,  tetapi karena kecekatanku ia pun tak jadi jatu, ku menahan kedua pundaknya.

Oh Tuhan inilah dia gadis yang menghantui pikiranku, yang ada di HP mama. Terimah kasih Tuhan Engkau telah mempertemukan kami. Ia mengucapakan terima kasih, sembari menyodorkan tangan kanannya, lalu bersalaman dan berkenalan. Ian, Abu. Jantungku berdetak kencang. Tak menyangka hal ini akan terjadi. Tangannya begtu lembut selembut suaraanya. Beberapa menit kemudian kami tiba di kampung,  lalu bergegas turun dari oto dan menuju ke rumah masing-masing.

Rumah Ian dan saya berdekatan. Sehingga setiap hari kami saling berjumpa dan berbagi cerita bersama. Dari kebersaman ini timbul perasan untuk memilikinya. Namun aku tak berani mengungkapkannya. Tetapi setelah lima hari ku memendamkan perasaanku, saya memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya. Dengan penuh kegirangan ia menerima cintaku. Aku begitu bahagia.

Sekalipun hari ini juga kami akan dipisahkan oleh tempat dan waktu, dia ke Ende dan aku ke Maumere, namun aku tetap percaya akan cinta yang bersemi di antara kami.
Seiriing berjalanya waktu, aku tersadar bahwa aku mengungkapkan perasan cintaku padanya di hari tipu yakni Senin, 1 April 2013.

Maka pikirku; ia menerimaku mejadi pacarnya hanyalah tipuan dan perasaan cintaku padanya dianggap tipuan saja. Lalu ku menghubunginya sekedar membuktikan apa yang ku pikiran. Aku menelfonya. Ia mejawab panggilan ku. Namun baru sekata ku ucapkan "halo", ia lalu menyambungnya, kak apa yang ku katakan kemarin jangan disimpan di hati ya. Sebab itu hanya iseng saja. Kan kemarin hari tipu. Dengan perasaan yang tak menentu, ku menjawab, `ia, kakak juga hanya iseng. Namu yang sesungguhnya hatiku teriris akan perkataan itu. Aku tak rela kehilangannya. *
Puncak Scalabrini, April 2013.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

9 frakmen sebelum kamu lahir

Cerpen Nong Djese

DI DEPANMU duduk seorang berkata mata tebal. Dengan suara yang lembut ia membacakan sembilan cerita ini kepadamu. Aku lihat kamu mendengarnya dengan penuh saksama.
                    ***
SATU
Ibumu mulai sering merasa tidak enak badan. Kepalanya sering kali pening tetapi tidak terlalu terasa pening. Suhu tubuh ibumu juga kadang mendadak naik memanas, tetapi juga tidak terlalu panas. Kemudian mereda. Acap kali ia hanya ingin tidur-tiduran, berlama-lama di tempat tidur. Hanya berbaring.

"Mungkin kamu hanya kurang istihat sayang. Akhir-akhir ini kamu `kan sering lembur kerja."

"Mungkin juga Pa, aku kebanyakan kerja, jadi kurang tidur."
"Nah. kalau kerjaan kamu lagi banyak, kamu harus minum vitamin, terus minta izin dulu beberapa hari untuk beristirahat, jika kerjaannya sudah selesai sayang."

"Ia papa sayang."
Sorenya setelah selesai kerja, ibumu bertemu ayahmu. Mereka mampir sebentar di apotek untuk membeli vitamin. Lalu mereka singgah lagi sebentar di warung. Senja itu entah mengapa, ibumu ingin sekali makan nasi goreng. Setelah itu mereka berpisah.

DUA
Mereka baru saja selesai. Ibumu mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian ia membenarkan sisiran rambutnya dan kembali berdandan sebentar. Seperti yang sudah-sudah, ia selalu meninggalkan ayahmu di atas ranjang. Ranjang yang koyak.

"Aku harus kembali ke kantor, banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan."
Ayahmu masih berbaring di sisi tempat tidur. Telanjang dan setengah sadar. Ia mungkin tidak mendengar dengan jelas suara ibumu.
"Oia, aku hampir lupa, jangan jemput aku sore ini."

"Hmmmm..."
Ayahmu hanya berguman sebentar lalu kembali tidur. Ibumu segera kembali ke kantor. Sorenya ia pulang sendiri, sebelum ke rumah ia singgah lagi di apotek di dekat kantornya. Ia membeli sebuah alat test kehamilan.


TIGA
Ibumu mulai mengerti gelaja itu. Ini bukan pengalaman pertamanya. Inilah hari-hari pertama saat ibumu mulai menyadari pertumbuhanmu dalam rahimnya. Itulah mengapa ia hanya diam ketika ditegur atasannya karena sering kehilangan konsentrasi kerja. Ibumu sering mengantuk dan juga kurang semangat dalam berkerja. Sejumlah tugas yang harus ia kerjakan tidak terselesaikan. Bahkan beberapa malah terbengkalai. Setelah beberapa kali ditegur, siang itu ibumu dipanggil oleh atasannya ke ruangannya.

"Akhir-akhir ini aku perhatikan, kinerja kamu menurun, aku jadi sedikit cemas dengan keadaan kamu. Mungkin ada baiknya kamu periksa keadaanmu ke dokter. Siapa tahu kinerjamu yang menurun itu ada hubungannya dengan kesehatanmu."

"Ah. Tapi Pak, aku rasa, aku baik-baik saja Pak."
"Ya, aku hanya menyarankan saja tidak ada salahnya toh, kamu periksa kesehatanmu, jangan sampai kesehatanmu sedang bermasalah. Sebab Mitra kerja kita terus saja mengeluhkan lambannya kerjamu. Kalau memang kesehatanmu sedang bermasalah, aku bisa menunjuk orang lain menggantikanmu untuk sementara waktu sampai kamu sembuh betul."

"Ia Pak, mungkin aku memang harus ke dokter. Tapi Pak, aku yakin bisa menyelesaikan semua kerjaanku Pak. Mungkin akhir-akhir ini aku hanya kurang istirahat karena ada beberapa persoalan di rumah."

"O...begitu, jika itu masalahnya, aku bisa mengerti, kamu punya banyak kesibukan di rumah, tetapi kamu harus ingat, pekerjaan kamu di perusahaan ini juga menuntut perhatian dan tanggung jawab yang penuh. Kami pasti paham maksudku."
"Ia Pak, aku mengerti."

"Ya.., kamu juga punya tugas dan kesibukan di rumah, tetapi kamu juga punya tugas dan tanggung jawab di perusahaan ini `kan. Nah, kamu harus bijak untuk memilah waktu dan tenaga. Kamu harus ingat, dua-duanya sama penting. Atau kalau memang kamu ingin berkonsentrasi dulu dengan keluargamu, aku bisa memberi kamu cuti untuk beberapa hari."

Setelah bertemu atasannya, ibumu beberapa kali bolak-balik ke toilet. Ia muntah-muntah di sana.

EMPAT
Ia mulai yakin dengan dugaannya. Dulu ketika sedang hamil anak pertama mereka, ibumu juga sering merasa pusing dan tidak enak badan. Walaupun begitu ia tidak langsung bertanya kepada ibumu. Ia masih ragu dengan keberadaanmu.
"Sayang?"
"Ia papa, kenapa Pa?"

"Kamu sudah minum vitamin yang hari kamu beli `kan sayang?"
"Sudah papa, memangnya kenapa sayang?"

"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan dirimu sayang. Maksudku, mungkin kamu hamil, sayang.. Waktu kamu hamil adek, awal-awal kehamilan, kamu mengalami gejala seperti ini."

"Mungkin ia papa, aku hamil. Ya sudah, nanti aku sempatkan diri ke apotek, mungkin juga aku hamil papa. Biar aku beli alat test kehamilan ya sayang."
Pagi harinya, ia menemukan bungkusan alat test kehamilan yang dibeli ibumu senja itu di apotek dekat kantornya.

LIMA
Perut ibumu mulai besar kini. Sudah lima bulan usiamu dan lima bulan pula kamu berada di dalam kandungannya. Di kantornya, ia dipindahkan ke divisi yang tidak terlalu banyak kerjaan. Atasan kantor ibumu bisa mengerti keadaannya. Sedangkan ayahmu, ia tidak bisa lagi menjemput ibumu sepulang kantor seperti biasanya. Mereka hanya bisa bertemu di siang hari, kala ibumu sedang istirahat siang.
"Bagaimana keadaan kandunganmu?"

"Baik-baik saja, anak kita sehat, aku selalu rutin ke dokter kandungan, jadi kamu tidak perlu cemas, dia baik-baik saja kok."
"........."
Ayahmu tercengang demi alasan yang hanya ia pahami. Mereka kembali melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. Kini masing-masing mereka tenggelam dalam lamunan yang panjang. Hening. Ayahmu mengelus-elus perut ibumu. Ia juga ingin merasakan kehadiranmu. Lalu kamu mulai menendang-nendang tangannya. Ayahmu begitu suka. Tetapi hatinya luka. Tak ada yang tahu.


ENAM
Ia mafhum, ibumu sebenarnya juga menyimpan sesuatu darinya dalam diam. Ia tahu itu. Tetapi terus dipendamnya. Rasa itu terus saja ditabungnya setiap kali ibumu berada di rumah.
"Ma, kamu baik-baik saja `kan sayang?"
"Ia Pa aku baik-baik saja papa."
"Aku perhatikan, kamu kelihatannya suka berdiam diri, malah sering melamun sendiri, kamu yakin kamu baik-baik saja, sayang?

"Ia papa, mungkin hanya bawaan anak kita sayang."
"Oia Pa, lusa 'kan jadwal perikasa kadunganku, aku berencana sehabis kerja aku langsung ke dokter Pa, kebetulan aku ada sedikit kerjaan hingga sore nanti. Boleh ya Pa?"

"Ya tapi pulangnya aku jemput ya sayang. Sayang, sekalipun kerjaanmu banyak, jangan lupa jaga kesehatan ya."
"Pasti papa."

Sore itu ibumu ke dokter kandungan untuk memeriksa keadaan kamu di dalam kandungannya. Ia ditemani ayahmu.

TUJUH
Sepulang kerja ia menjemput ibumu. Namun sebelum kembali ke rumah, mereka masih berkunjung ke suatu tempat penjualan perlengkapan bayi. Mereka berlama-lama di sana dan membeli banyak sekali kebutuhanmu. Semua perlengkapanmu berwarna merah hati, karena mereka tahu dari hasil pemeriksaan dokter kamu berjenis kelamin perempuan. Mereka tersenyum riang gembira. Tak terasa kamu akan segera lahir. Sepertinya mereka tak sabar lagi menunggu kelahiran kamu.

"Kalau baju ini cocok tidak Ma?"
"Ia cocok Pa, bagus papa."
"Sayang, apa kita harus membeli lagi Box Baby?"
"Papa..punya adek yang dulu masih juga bagus, kita pakai punya adek saja."
Saat hendak keluar dari tempat itu, ibumu melihat ayahmu di seberang jalan. Matanya sayu.


DELAPAN
Ibumu dijemput ayahmu selepas kerja sore itu. Ia tak punya pilihan lain karena ayahmu memaksannya. Ia bersikeras ingin menemui ibumu. Mungkin karena sudah beberapa minggu ini mereka tidak lagi bisa bertemu seperti biasanya. Ibumu memang sudah jarang makan siang bersama ayahmu. Sejak mereka bertemu malam itu di depan tempat penjualan perlengkapan bayi, ibumu tak lagi ke rumah ayahmu.

"Kamu terlalu nekad."
"Aku tak peduli lagi, aku tak ingin lagi keadaan kita seperti ini terus. Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini."
"Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin dia tahu."
"..........."

Ayahmu terdiam. Diamnya begitu panjang bahkan hingga mereka selesai makan. Ayahmu ingat malam itu, di tempat inilah mereka pertama kali bertemu setahun yang lalu. Dan ketika ia harus mengantar ibumu pulang, serupa malam itu dan malam-malam lainnya, ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bahkan untuk mengecup kening ibumu pun ia tidak bisa. Ia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Ayahmu melepas ibumu di seberang jalan. Sementara di tepi jendela malam itu, ia hanya melihat ibu dan ayahmu. Setiap malam ketika ibumu pulang terlambat setelah lembur di kantornya, ia ada di jendela rumah mereka. Rumah ia dan ibumu. Dari jendela itu ia membuang alat test kehamilan ibumu ke gelap malam.

SEMBILAN
Tidak terasa sudah sembilan bulan kamu ada di dalam perut ibumu. Hari itu hari kelahiranmu. Beberapa menit sebelumnya, tangismu baru saja pecah di sebuah rumah sakit bersalin. Kamu terus merengek ingin kembali ke dalam rahim ibumu. Sementara ibumu masih tak sadarkan diri.

Tak ada yang melihat ayahmu. Tadi ia memang ada di sana. Namun ia buru-buru pergi setelah meninggalkan sebuah topi bergambar kelinci kecil di samping tempat tidurmu. Topi mungil yang ia beli di tempat perlengkapan bayi, malam itu, tiga bulan yang lalu. Ia pergi tanpa pernah menoleh. Itu terakhir kali ayahmu melihat kamu.

Karena saat malam sudah jatuh di kota itu, diam-diam seseorang mengendap-endap ke samping tempat tidurmu. Ketika semuanya terlelap, buru-buru ia menggendong dan menjejal mulutmu. Tak ada yang tahu ketika ia membawamu pergi. Kamu dibuangnya di antara tumpukan sampah di pinggir kali.

Pagi itu setelah ibumu mulai berangsur pulih, ia hanya menangis setelah tahu semuanya telah tiada. Suaminya telah membawa kamu pergi. Sedangkan ayahmu sudah pergi entah ke mana.

Seminggu setelah itu mereka membawa ibumu ke ruangan kejiwaan karena mulai saat itu ibumu terus saja tertawa dengan suara yang keras. Ia juga sering menangis, meraung-raung memanggil nama ayahmu dan juga nama suaminya. Ketika tengah malam ada yang sering mendengar ia banyak meracau sambil memeluk topi mungil pemberian ayahmu itu.
                    ***
Seorang tadi berhenti bercerita. Ia membetulkan letak kaca matanya, lalu bangkit berdiri dan menggandeng tanganmu. Bunyi kelepak sayap kalian terdengar. Aku terpesona melihat kalian membumbung tinggi ke angkasa. *


Malam, 10 Febuari 2013
Untuk Giovanni Alfadio Djese Pu'an dan Ibunya  

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

Universitas Diam

Cerpen Hans Hayon

"Kawan-kawan pecinta kritik yang budiman. Bersama selebaran ini, saya mengajak semua kita yang menyandang status sebagai cendekiawan muda untuk selalu menganggap keharmonisan sebagai sebuah kecelakaan terbesar. Hal-hal teknis dan kualitatif lainnya akan dibahas di kantor pkl. 08. 00 WITA". Salam, Kurniawan.

KULIPAT selebaran itu dengan tangan gemetar. Memang, tubuhku gemetar hebat, tetapi bukan karena takut melainkan semangat yang menggelora dalam batinku. Sebagai seorang mahasiswa, aku selalu demikian: bergetar seluruh tubuhku apabila menyaksikan aneka ketidakadilan berkecamuk di sekelilingku. Tapi jangan salah sangka, aku tidak hanya sebatas merasa gemetar melainkan mengajak kawan-kawan sekampus secara bersama mmerasa gemetar.

Tidak heran jika perkumpulan itu kami namakan GEMETAR (Gerakan Mahasiswa Evolusioner PenenTang TotAliteRianisme). Terkadang terlintas di pikiranku, betapa bombastisnya slogan itu, apalagi di era postmodernisme sekarang. Tetapi tidakah kalian tahu, dengan semakin majunya negara ini, rezim totaliter kian pandai menyembunyikan kuku dan taringnya? Wah...rupanya aku kelewatan yah...Indonesia kan negara pluralis, multikulturalis, dan masih banyak -is lainnya. Jadi tidak mungkin semangat kuno itu masih cukup subur.

"Andri...sudah waktunya untuk berangkat." Terdengar ketukan pada pintu disusul teriakan seorang kawan yang membuat kepalaku nyaris membentur dinding kamar karena kaget. Kutatap sekali lagi wajahku yang mulai tersenyum di balik cermin sambil melangkah ke luar.

                    ******
Siang yang terik. Kutatap gedung sekolah dengan tatapan sedih. Sejenak kami berpandangan dalam diam. Yah...hanya diam. Itulah motto yang selalu menarik di zaman ini. Kita hanya butuh diam. Bila ada korupsi, kami diam. Ketika ada ketidakadilan, kami diajarkan bagaimana cara terbaik dari diam. Kata salah seorang dosen kalau diam itu emas. Diam itu berkah. Diam itu berharap. Diam itu sebuah doa. Jika tidak ingin diskors dari sekolah, bahkan masuk sel, perlu diam. Bahkan filsuf dan matematikawan Ludwig Wittgenstein pernah bilang, "Untuk hal yang tak terkatakan, orang mesti diam." Sampai pada titik ini, aku bingung. Mana yang paling penting: diam atau berdiam diri?

"Kamu belum pulang, nak" sapa seorang dosen. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tidak menjadi kalimat tanya. Dan, ia sepertinya tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya menatapku tanpa selidik. Aku tak pernah berpikir kalau kali ini mimpiku menjadi kenyataan: beradu pandang dengan seorang dosen. Bagaimana tidak, kesempatan seperti itu jarang dijumpai dalam ruang kuliah. Hampir semua dosen kelihatan sibuk dengan materi yang dipresentasikannya tanpa peduli jika ada mahasiswa/i yang tertidur, ribut, bersmsan ria, ngetweet, facebookan, dan berbagai aktivitas nonakademis lainnya. Tidak ada relasi yang sungguh dalam di antara kami. Mungkin itulah tuntutan kurikulum terbaru bangsa ini, membiarkan peserta didik sibuk dengan kreativitasnya masing-masing.

"Ibu sendiri, belum pulang?" balasku cepat setelah menyadari kalau sejak tadi dosen itu menatapku.

"Belum..Oh ya...kalau tidak salah nama kamu Djarot kan?"
Rupanya pertanyaan ini cukup serius. Terbaca dengan jelas di wajahnya, harapan semoga aku bukanlah orang yang ia maksud.

"Betul, Bu,,,aku Djarot" sambungku dengan nada cemas.

"Besok, bertemu saya di kantor ya" ujarnya dengan nada berat sambil melangkah meninggalkanku yang kebingungan.
Kucoba memutar otak, membayangkan aneka perbuatan yang mungkin saja menjerumuskanku dalam sebuah kesalahan. Sayangnya, tidak kutemukan.

"Jangan-jangan...Ahh,,, tidak mungkin!!" hatiku bertengkar hebat. Entahlah, dengan siapa diriku sedang berdebat saat ini. Dengan diriku sendiri? Mungkin.
Akhir-akhir ini, dosen di kampus selalu begitu. Melemparkan sebuah pertanyaan tanpa menyediakan kemungkinan bagi kami untuk mencari jawabannya. Tapi kalian jangan salah sangka, mungkin dengan begitu mereka sedang menumbuhkan kreativitas dalam diri mahasiswanya. Bukti yang paling jelas adalah sebagian besar dari kami menjadi tumpul dalam sikap kritis, mandul bersikap, dan akhirnya hanya diam. Luar biasa, bukan?
                    ***
Rombak sistem administrasi universitas ini! Ekspersi jiwa adalah yang utama. Mahasiswa punya idealismenya sendiri! Kami bukan sepasang merpati yang penurut! Kembalikan suara kami yang dipasung!"

Dan perang pun pecah. Jika dahulu senjata merupakan sarana terampuh menggasak musuh. Kali ini, harapan kami terletak pada kata-kata.

"Bangun kembali universitas ini dalam tiga hari, dan akan kami hancurkan dengan kata dalam detik." Suara orator terdengar nyaring membahana. Meruntuhkan tembok yang sedari dulu bungkam. Meluruhkan kaca jendela berkeping-keping. Pagar kawat yang anggun terlihat bergetar hebat. Lima menit berselang, suasana menjadi kacau. Dan demonstrasi pun mendadak usai setelah sebuah truk polisi mencium aroma tempat itu. Dan di ujung kampus yang luas, berdiri seorang mahasiswi sambil menangis. Apa yang ia tangisi? Entahlah.

"Djarot..." teriak seorang wanita dari kejauhan. Tak bisa kutangkap jelas wajah wanita itu selain sebuah sinar yang tajam. Dari matanya yang selalu akrab di hatiku, kesadaran memastikanku jika dosen wanita itu memang benar. Tak pernah setitik jejak langkahku luput dari pandangannya. Ia tahu baik bagaimana watak dan eksperi diriku yang sebenarnya. Mungkin satu-satunya hal yang tidak pernah ia tahu adalah bahwa dalam setiap mimpiku selalu ada dirinya.

Mobil melaju dengan kencang menyisahkan keanggunan sekolah yang berdiri dengan megahnya. Kami pun saling menatap sekali lagi. Sungguh, ia sedang tersenyum. Tak pernah bisa kutafsir apa makna senyumnya. Apakah karena senyum adalah sebuah jarak terpendek antara dua pribadi, ataukah senyum adalah sebuah ketulusan pengkhianatan?

Belum kupastikan apa jawaban yang benar. Hanya deru mesin mobil polisi yang terdengar mengetuk gendang telinga. Mengikis hatiku yang mulai beranjak pergi dari logika. *


* Peminat sastra, tinggal di unit Rafael-Maumere


Pemberitahuan:

Pengiriman puisi dan cerpen untuk dimuat pada halaman Imajinasi Pos Kupang melalui alamat  email ini: imajinasiruang@ymail.com

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

terperangkap di deras hujan

Cerpen Djho Izmail

HUJAN
terus mengguyur tanpa henti. Sudah sejam lebih aku hanya bisa berdiri di pojok emperan Toko. Banyak orang bersamaku tanpa aku kenal. Seseorang tersenyum padaku sambil berdiri di sampingku. Aku cuma tersenyum. membalas padanya tanpa memberi sedikit ruang baginya, bagi orang asing yang baru mampir tersebut.

Dalam otakku berkecamuk berbagai macam pikiran. Aku takut bila sore nanti aku tidak bisa mengikuti kuliah, padahal sudah dua kali aku tidak masuk. Bila kali ini tidak masuk lagi berarti aku harus siap-siap untuk program ulang tahun depan. Seseorang menyenggol pundakku, aku tersentak. Kulihat ke samping kiri. Orang itu lagi, dalam hatiku membatin. Ia kemudian tersenyum lagi dan meminta maaf padaku. Aku cuma menganggukan kepala. Tanpa berkata apa-apa. Aku seakan kehabisan kata-kata.

Hujan mulai tercurah satu-satu, pertanda sudah reda. Orang-orang yang mampir di emperan toko tadi perlahan minggat satu persatu. Aku kemudian bergegas sambil tersenyum. Dalam hatiku seolah berteriak. Pekikan kemenangan karena sebuah dompet telah kudapati. cukup tebal. Andaikan isinya melebihi lima ratus ribu, pasti tunggakan uang kostku tiga bulan terakhir terlunaskan, pikirku. Dengan gesit aku menumpangi bemo yang berhenti tepat di depanku.

Ternyata perkuliahan sore ini ditunda. Aku jadi sedikit marah dengan sikap dosen yang otoriter. Dia pikir cuma dia saja yang punya rutinitas. Alasan tak masuk akal, sibuk. Padahal kita sebagai mahasiswa harus pandai-pandai menggunakan waktu, karena tidak semua yang kita rencanakan berjalan mulus sesuai yang diharapkan. Teman-teman yang mendengar cuma bisa tersenyum sinis padaku.

Mungkin mahasiswa sekarang yang tidak punya lagi idealisme sehingga mereka cuma menuruti saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Atau aku yang berlebihan dan cuma omong di belakang-belakang. Entahlah.

Di kamar ukuran tiga kali dua setengah meter  aku seakan pusing. Dompetku tidak kutemukan. Aku kemudian mengingat-ingat kembali kapan dan di mana tempat terakhir aku meletakannya. Aku masih ingat betul ketika pagi tadi sebelum ke perpustakaan aku meletakannya di dalam tasku. Rasanya tidak mungkin jatuh di jalan. Memang di dalam dompet tersebut cuma ada uang dua puluh ribu rupiah, tetapi bagaimana dengan kartu mahasiswa dan KTP serta kartu ATM yang ada di dalamnya?? Kepalaku seakan mau pecah. Aku sangat pusing dengan hal tersebut.

Aku kemudian mengambil dompet yang baru kau copet tadi. Kubuka dompet tersebut. Ternyata isinya di luar dugaanku. dua puluh lembar uang seratus ribu dan sepuluh lembar uang lima puluh ribu serta sebuah KTP. Aku tercengang. Memang selama ini aku sering mencopet bahkan sering mencuri barang-barang di swalayan di belokan pertama dekat kostku, tapi hasilnya paling tinggi dua ratus ribu rupiah.

Aku terus menatap KTP yang ada di tanganku. Milik seorang cewek. Cewek yang tadi siang berdiri di samping kiriku. Dalam hati kecilku aku merasa sangat bersalah. Mungkin dia sekarang sangat pusing mencari dompetnya. Orang tuanya pasti marah besar bila mengetahui hal tersebut. Aku kembali menghitung uang dan melihat foto yang ada di KTP tersebut. Rasanya tidak tega melakukan hal ini. Aku heran dengan diriku sendiri. Baru kali ini aku sadar akan perbuatanku. Padahal selama ini aku seolah merasa paling bahagia. Serasa telah memenangi perhelatan akbar seratus tahun sekali dengan hadiah triliunan rupiah.

Kuteliti kembali isi dompet tersebut. Aku menemukan secarik kertas yang menuliskan sebuah nomor handphone. Dengan sigap aku menekan tombol-tombol handphone-ku lalu meletakan di telingaku. Suara 'miss cerewet' mengingatkanku bahwa pulsa dalam kartu prabayarku tidak mencukupi untuk melakukan panggilan bahkan untuk sebuah pesan singkat. Aku sedikit berpikir kemudian mengambil selembar uang lima puluh ribu, untuk mengisi pulsa.

Dari sebrang suara lembut menyapaku dengan manisnya. Aku kemudian menceritakan tentang dompet yang aku temukan di emperan toko kepadanya. Padahal sesungguhnya dompet tersebut aku copet dari dalam tasnya. Ia sangat berterima kasih kepadaku karena telah menemukan dompetnya.

Sore yang sedikit mendung. Aku duduk di atas bangku taman kota. Aku telah berjanji dengannya malam kemarin untuk mengembalikan dompetnya di sini. Di taman kota ini. Setelah sepuluh menit menunggu cewek itu datang. "Maaf membuatmu lama menunggu" katanya sopan sambil menyodorkan tangannya. "Nining" lanjutnya lagi setelah aku menyalaminya. "Hakim" kataku singkat, lalu mempersilakan dia duduk di samping kiriku.

Kamipun bercerita tentang kehidupan masing-masing, setelah aku mengembalikan dompetnya. Tidak lupa aku mengatakan tentang uangnya yang berkurang, untuk mengisi pulsaku. Ia sangat berterima kasih kepadaku. Katanya bila dompet tersebut tidak di temukan, tentu ia tidak akan ke Kalimantan untuk menjenguk Ibunya yang sakit. Ia lalu menyodorkan selembar uang seratus ribu kepadaku, ketika hendak pamit pulang. Aku menolaknya dengan halus. Ia terus memaksa. Katanya aku tidak menghargai tanda ucapan terima kasihnya. Aku terus menolak, tapi akhirnya kuterima juga karena ia terus memaksa.

Sebulan telah berlalu dari kejadian tersebut. Dompetku yang hilang waktu itu  ternyata tidak hilang. Aku menemukan kembali dompetku dalam tas. Aku merasa seperti dibodohi oleh kelakuan sendiri. Tak masalah yang terpenting sekarang aku berusaha untuk berubah. Dan Aku bisa. Paling tidak untuk beberapa hari ini, kehidupanku seakan berubah. Aku tidak lagi melakukan pekerjaan tak halal tersebut. Suara handphone berdering, membuyarkan rasa ngantuk yang menggerogoti ragaku.

Aku mengangkatnya dengan tak bersemangat. Nining rupanya yang menelepon aku. Aku lupa menyimpan nomor handphonenya waktu itu. Ia mengajakku untuk bertemu dengannya di tempat pertama kali aku menunggunya suatu sore, ketika hendak mengembalikan dompetnya.

Di Taman yang kian ramai aku duduk tepat pada bangku yang pernah aku duduki
kira-kira sebulan yang lalu. Seekor kupu-kupu hinggap sebentar pada sekuntum bunga layu, lalu terbang. Mungkin ia merasa terusik dengan kehadiranku di situ. Pundakku ditepuk dari belakang. Aku kaget sambil berdiri. "Sudah lama??" tanya Nining sambil tertawa nyengir. Aku cuma menggelengkan kepalaku, sambil melirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Padahal sebenarnya aku telah menunggunya tiga puluh lima menit yang lalu.

Seribu prasangka menumpuk di dalam isi kepalaku. Pelan-pelan dalam hati kecilku aku seakan mengagumi kecantikan wajahnya. Ia tersenyum kepadaku ketika menyadari lirikan matanya tertangkap ekor mataku. Aku berusaha tersenyum dengan sedikit dipaksakan. Aku seolah mematung ketika ia mulai bercerita.

"Hakim maafkan saya ya!! Saya tidak tahu harus mulai dari mana, tapi yang jelas setelah kamu mendengar cerita ini, saya harap kamu jangan marah terhadap saya. Karena ini merupakan perasaan saya dan belum seorangpun mengetahuinya. Karena memang saya belum berkata jujur pada siapa-siapa, kecuali pada kamu, saya hendak katakan"

"Ibumu sudah sembuh??" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, maukah kamu mendengar sedikit curahan hati?" Ia kembali mengajakku mendengarkan ceritanya. Aku mengiyakan saja karena aku takut ia akan tersinggung. Ia mulai menceritakan tentang awal dia berada di kota ini. Tentang semua yang ia lakukan selama dua tahun terakhir di kota ini. Aku seolah tak percaya ketika ia mulai mengatakan lembaran kisah suramnya.

"Mungkin kamu tidak percaya dengan kisah saya ini, tetapi inilah saya. Kamu sadar tidak ketika kamu kehilangan dompet hari itu?? Aku cuma mengangguk lalu berkata iya. Mungkin kamu tidak mengira kalau sayalah orang yang mencopet dompet kamu di emperan toko itu." Aku terperanjat, mana mungkin wanita secantik dia melakukan hal tersebut. Aku menjadi gugup ketika ia mengatakan bahwa dirinya seorang pencopet, aku merasa seolah dia telah mengetahui semua kelakuanku. Seolah dia telah mengetahui semua perilaku busukku selama ini.

Menjadi seorang pencopet, tanpa diketahui oleh siapapun. Saya yang telah mencopet dompetmu dari dalam tasmu dan menaruhnya kembali ketika kita berada di taman kota sore itu. Saya harap kamu mau memaafkan saya." Aku tergagap, dalam hati aku berpikir: andai dia tahu kelakuan aku selama ini, mungkin dia tidak akan menceritakan kehidupannya yang suram. *

*) Djho Izmail adalah nama pena dari Yohakim Dawi. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Menetap di Kupang, sambil ikut mengelolah Jurnal Sastra SANTARANG.



-----------------------------------------------------------------------------
Pengiriman puisi dan cerpen untuk dimuat pada halaman Imajinasi Pos Kupang melalui alamat  email ini: imajinasiruang@ymail.com
------------------------------------------------------------------------------

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

nyanyian jiwa sang gadis desa

Cerpen Ronny Manas

MENTARI
baru saja menghilang dibalik barisan bukit-bukit batu, ditelan horison pada ujung senja hari itu. Pijaran lampu-lampu listrik di sepanjang pesisir pantai tempat pariwisata itu perlahan menunjukan kemolekannya dalam rahim malam. Tak mau kalah bersaing, cahaya pelita-pelita peot yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas dan sisa benang tenunan selendang sutera gadis-gadis desa pun mulai menari terseok-seok dari dalam gubuk-gubuk bambu di kampung gadis itu.

Sebuah gambaran keaslian suasana kampung dan ketertinggalan yang masih mengakrabi masyarakat kampungnya. Meski dian-dian suram itu tak mampu melawan benderang lampu listrik tapi mereka tetap riang menerangi malam karena mereka juga ingin mengubah gelapnya malam. Rasanya mereka sama dengan nur rembulan purnama yang memerah di ufuk timur kala bumi tak menghalangi cahaya mentari.

Padahal cerita singkat dari kota-kota besar yang tak membutuhkan parafin dan dian tentang zaman modern telah didengar dari bibir sesamanya yang berdomisili di ibu kota negara. Katanya  dunia terus berubah rupa setiap saat dan di sana listrik tak pernah padam meski hari telah siang. Padahal kampungnya tak pernah berubah.

Rupanya perubahan itu hanya berpihak pada orang-orang kota. Itulah sebabnya masyarakat pedesaan tidak punya pilihan lain selain memeluk erat ketertinggalan bak sahabat hidup hanya untuk memendam rasa dan asa yang merasuki jiwa, "Betapa aku ingin seperti kamu!". Nyanyian jiwa orang-orang kampung di setiap suasana minum kopi sore.

Hasrat yang menjadi kidung senja di setiap sudut hari ini, tidak saja tinggal dalam awang-awang orang kampung yang tak berpendidikan, namun tertanam juga dalam jiwa sang dara desa yang sudah lama lulus SLTA. Ia tak tahu kapan mimpi itu akan berkecambah. Meski demikian ia juga tidak mau berteriak layaknya tetua kampung atau turut dalam perbincangan pengaduan mereka yang tak pernah didengar.

Ia memilih berdiam diri dan mengemas rapi impian itu dalam benaknya. Semua harinya ia lalui apa adanya bersama orang-orang desa yang masih bergantung pada nasib. Ketergantungan pada alam digenggamnya erat walau sangat bertentangan dengan bisikan nuraninya. "Rusti, kaulah satu-satunya gadis desa kita yang mengenyam pendidikan hingga tamat SLTA," kata orang-orang kampung padanya. Itulah sapaan akrabnya di kampung.

                        ***
Tak tahu kenapa, malam itu seluruh kisah masa kecil bersama sang kakek yang telah dipanggil sang Khalik ke taman eden selepas Rusti menerima Komuni kudus, justru menjadi khayalannya. Tidak seperti malam kemarin atau pun malam-malam sebelumnya yang telah usai dengan kisahnya tanpa kehadiran penggalan cerita masa kecilnya, walau masa itu sulit terhapus dari memorinya.

Kronologi kisah ciliknya membias pada kedipan binar bola matanya di sela kilatan cahaya lampu minyak yang menerangi malam itu, membuat dirinya seperti kecil lagi. Karena tak kuasa mengusir kisah cilik yang terus menghantuinya, ia mulai menceritakannya meski tak ada orang lain yang mendengarnya selain bayangan dirinya yang selalu berada di dekatnya.

"Selepas makan malam, aku biasanya mengajak kakek duduk di depan rumah. Kami  bercerita sambil menatap langit penuh bintang gemintang. Kakek pernah bilang, `Jangan memandang malam sebagai sebuah ketakutan.

Malam juga punya keindahan. Waktu malam kau dapat menyaksikan rasi bintang waluku yang menandakan musim hujan segera datang. Saat malam pun kau dapat menonton meteor-meteor yang beterbangan ke bumi dengan nyalanya yang panjang. Kau juga dapat mengerlingkan matamu pada bintang-bintang kecil yang berjalan, berpindah dari tempat pertamanya menuju sudut langit yang lain.

Seandainya tak ada bintang, pasti langit selalu gelap jika bulan tak muncul di angkasa. Kau juga akan tahu kalau bulan selalu berubah rupa setiap malam. Dari sabit sampai purnama pada malam hari. Kau tak pernah melihat benda-benda itu pada siang hari karena mereka adalah benda-benda malam yang tidak muncul pada siang hari. Sambil mendengar cerita dari kakek, aku sering menghitung jumlah bintang tapi tidak pernah berhasil menghitungnya karena jumlahnya terus bertambah.

Selalu ada bintang yang lebih terang. Dan saya sering meminta kakek mengambilnya untukku tapi kakek selalu bilang, `kamu adalah bintang yang selalu menerangi duniamu sendiri. Tak perlu aku memberimu bintang dari langit lagi. Kamu sudah punya banyak bintang yang selalu bermain mata'. Dan  ia terus bercerita sampai aku tertidur di atas pangkuannya".

Kisah masa kecilnya itu meninabobokannya dan membuatnya tertidur pulas di atas ranjang hingga malam pergi diusir terang.

Musim panas telah lewat. Meski demikian, sengatan panasnya masih saja terasa. Butiran air mata langit yang dinanti-nanti masih saja bersembunyi di balik tingkap-tingkap awan kelabu. Bentangan lahan yang telah digarap tampak bertelanjang dada. Tak berpakaian. Kekeringan berdaulat penuh atas semua makhluk yang hidup. Kehausan, kelaparan, kemelaratan kian kejam. Alam tempat pengungsian dan lumbung penampung segala belum juga memberikan reaksi seperti biasanya.

Nyanyian rumpun-rumpun bambu ketika tertiup angin barat dari gunung yang kering ke utara, terasa begitu sumbang. Firdaus yang berdandanan rerumputan hijau dengan pepohonan yang berriaskan butiran embun di kala fajar merekah entah bersembunyi di mana. Dia mencoba mencarinya di balik kecongkakan laut lewat gulungan gelombang-gelombang laut selatan, tapi tak dijumpainya.

Dengan bertudungkan purnama malam, ia mencarinya di dalam rahim hutan, menelusuri ketiak-ketiak pepohonan tua yang telah lanjut usia. Pepohonan itu hanya bergumam bijak karena curiga padanya. Mungkin ia akan mencurinya ketika penghuni hutan tertidur dan mendengkur.

Sayang! Dugaanya salah. Alam justru mengalami nasib yang sama; penghuninya tengah menanti kapan langit akan menangis karena duka langit adalah sukacita bumi. Dan ia memberanikan diri mencarinya di tengah keramaian kota, di emperan-emperan toko hingga menelusuri tiris-tiris kastil para kaum bermodal dan elit politik, namun mereka lebih bisu dari alam, kecuali menatapnya dengan sinis.

"Mengapa mereka begitu kejam dari alam?" tanyanya selepas mendatangi kota.
"Firdaus masih dalam genggaman para elit yang telah menyalamimu dengan diam dan lirikan sebelah mata. Mereka yang sering menjanjikannya. Karena itu mereka sendirilah yang menyembunyikannya," bisik sang bayu padanya sembari membeberkan alasan tuduhannya.

Nyaris ia berteriak, namun ia sadar ia tak punya kata yang cukup untuk membahasakan apa kata jiwanya tentang harapannya yang tinggi, juga orang-orang yang selama ini berbagi duka bersamanya menanti kelahiran firdaus baru. Serentak petuah terakhir sang kakek terngiang di telinganya,

"Nak, saat aku telah tiada dan engkau beranjak dewasa, hidupmu akan menuntut aneka tuntutan dan tanggung jawab. Kamu harus berjuang. Jangan  tanyakan pada alam, apa lagi mengadu di balik ketangguhan barisan karang, karena alam tak tahu menipu, karang pun tak tahu bagaimana menyembunyikan sebutir pasir maupun setetes air laut. Ingat! Laut tak akan kering. Begitulah dengan hidupmu.

Ombak-ombak kehidupanmu tak akan berhenti menggulung bahkan akan menggunung dan tak pernah lelah berlarian menuju tepian, datang menyurutkan pasir-pasir hidupmu yang berkilau. Kebahagiaanmu bak mutiara nan berharga yang takkan pernah kau temukan jika kau hanya mengharapkan laut mengering dan alam menggundul.

Semuanya akan menjadi mungkin jika kau memiliki keberanian untuk menyelam ke dalamnya, tenggelam ke dasar laut dengan seluruh keberadaanmu. Pada saat itu engkau akan melihat mutiara itu bercahaya karena hanya orang yang memiliki keberanianlah yang pantas memiliki hidup ini". Rusti terdiam.

Otak brilian yang dimilikinya seakan kehabisan daya untuk bekerja. Dingin! Entah apa yang harus diperbuatnya. Dan purnama itu kembali. Dengan malu menebar senyum lewat celah-celah gumpalan awan. "Mungkinkah aku akan mengerti apa dibalik bulan jika aku tak pernah memahami rahasia awan?, sementara sebelum sempat aku akan mengerti rahasianya justeru awan telah hancur menjadi titik-titik hujan".

Kekesalan begitu menyiksa dan ia meyambung; awan kaulah satu-satunya kehidupan langit yang tak pernah memiliki tempat perhentian. Langkahmu tak pernah meninggalkan bekas, namun pada pundakmu yang maha lembut bergantung bulan dan bintang-bintang.

Di langit tiada juga pondok bagimu tuk sejenak membaringkan ragamu yang berjejak tanpa henti namun bumi subur akan butir tangisanmu yang kau teteskan dari ragamu. Haruskan aku mencari jejakmu di bumiku yang kering ini? Atau pada penghuni bumiku yang  yang tela mati urat kepeduliannya? Andai saja kau dapat berkata ajarlah kami..juga para pembesar negeri ini agar mampu membusanakan karakter tulusmu. Membiarkan pundak mereka memikul penderitaan rakyatnya-merobek kantung baju dan celananya demi melunasi utang kelaparan dan kehausan rakyatnya?*

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

Ada yang Menyisip Daun Sirih ke dalam Peti

Cerpen Saddam HP

TEMANKU
, kematian adalah bayangan kita sendiri. Sejauh kita memiliki bayangan sejauh itu pula kematian mengikuti kita. Ia adalah sahabat paling karib. Bahkan jauh lebih karib dari pada kita berdua. Tapi, aku tak menyangka ia akan menjemputmu secepat ini.

Perjalananmu hanyalah dari muka bumi ke dalam tanah. Tapi, betapa menyedihkan perjalanan itu. Kini, aku hanya bisa berdiri di bawah pohon mangga. Kakiku belum terlalu kuat untuk kulangkahkan ke dalam rumah.

Dulu, ketika ayahku meninggal, kau menghiburku dengan cerita-cerita yang awalnya tak pernah kupercaya. Tentang orang mati yang hidup kembali setelah jenasahnya dilewati seekor kucing, tentang jiwa orang mati yang bisa berbicara dengan perantaraan tubuh lain, tentang indahnya Rai Kmaus[1] , tempat semua jiwa berkumpul.

"Manek, tak usah lagi kau menangis. Harusnya kau senang karena Ama akan sangat berbahagia di sana."
"Berbahagia seperti apa, Ulu?"

"Kata orang, di sana setiap jiwa hanya perlu memasak nasi sebutir untuk waktu yang lama. Kalau kau ingin makan dagingpun, hidangan itu akan langsung tersedia dihadapanmu."

"Apakah nanti aku juga akan ke sana, Ulu?"
"Bisa saja. Asalkan kau tak boleh mati tenggelam dalam banjir, nyaris seperti kemarin. Haha."

Kau bisa saja tertawa waktu itu dengan pengetahuanmu, Ulu, tapi keajaibanmu sewaktu kecil membuatku selalu terperangah. Kaupun selalu bisa menjadi bocah ajaib yang melindungiku. Dari hal yang paling kecil seperti digigit kalajengking atau ketika aku hampir tenggelam dalam banjir. Selalu ada kau yang mengajarkanku bagaimana mengoles ludah sendiri pada bekas gigitan kalajengking dan juga cara mengapungkan diri ketika banjir hampir menenggelamkanku.


Maka, mendengar kematianmu adalah hal paling mustahil yang harus kuterima. Seingatku tak ada yang ganjil sore itu. Hanya ada kita bertiga; Ikun, kau, dan aku. Aku masih ingat Ikunlah yang menuangkan tuak yang kurendam dengan tangkur buaya ke gelas kalian berdua. Aku tak bisa minum bersama kalian. Ketika istriku membawakan botol tuak itu, iapun mengingatkanku untuk berpantang. Sehingga aku hanya melihat kau dan Ikun menghabiskan isi botol itu sampai kalian pulang dalam keadaan mabuk berat.

Keesokan harinya, Bui Bete mengatakan padaku kalau kau sedang sakit keras sehingga tak bisa bersamaku ke kebun. Begitupula dengan Ikun. Namun, sakitnya tidak lebih parah dari pada sakitmu. Hari berikutnya, orang-orang mulai memberitakan di seluruh kampung kalau kau mati keracunan. Ah, aku masih belum percaya kalau kau mati. Lagi pula siapa yang tega meracunimu?

                            ***

Suamiku, kematian mungkin adalah jalan lain menuju kehidupan baru. Meskipun hanya pergi ke Rai Balu[2], tapi betapa jauhnya jarak antara yang fana dan yang baka. Memang kita baru bisa bergerak kalau ada jarak, tapi jarak yang diciptakan kematian dan kehidupan tak bisa dihubungkan oleh apapun. Kecuali cinta.

Mencintaimu adalah karunia terindah dari Madomik Hun[3] untukku. Menemui di bawah pohon mangga setiap kali senja turun adalah kewajiban yang kulakukan dengan merdeka. Masih nyata kuingat ketika di bawah pohon mangga yang dililitkan batang sirih, kau menanyakanku perihal sirih itu sendiri.

"Bete, tolong ambilkan aku satu daun dari pohon ini?"
"Daun yang mana, Ulu? Mangga?
"Bukan, daun sirih."
"Kenapa harus daun sirih?"

"Dulu, ketika leluhur kita turun di kampung ini dari sebuah tempat bernama keabadian, tanaman yang pertama-tama mereka tanam adalah sirih. Daun sirih mereka pakai sebagai isyarat maaf dan ampun karena kejahatan selalu ada di bumi. Dan juga untuk mengusir mual, karena di tempat kita ini waktu diciptakan dan batas antara degup hidup dan mati yang menanti itu menjadi jelas. "

"Kalau daun sirih untuk mengusir mual pada waktu hidup, apa gunanya ketika mati?"
"Kita bisa saja menyumpah orang untuk mati dengan daun sirih ini. Begitulah yang dikatakan orang-orang tua."
Ah, Sayangku. Mengingatmu adalah satu-satunya pekerjaan terberat yang harus kulakukan sambil menangis. Tapi kau perlu tahu hal ini. Pada malam itu ketika kau pulang dari kebun, Ikunlah yang mengantarmu. Ia bilang kalau sepulang kebun, kalian singgah beristirahat di rumah Manek sambil meminum tuak yang ia suguhkan pada kalian. Saat itu, kau minum terlalu banyak sehingga Ikun harus membopongmu pulang sementara iapun dalam keadaan mabuk.

Kalau saja kau sadar keesokan harinya maka itu bukan masalah. Tapi setelah kejadian itu, kau malah jatuh sakit. Seluruh tubuhmu menguning. Dari kuku kaki sampai kedua bola matamu. Penasaran akan hal itu, akupun mengunjungi Ikun. Iapun sakit tapi tubuhnya tak sampai menguning sepertimu. Ikunpun bercerita kalau sore itu hanya kalian berdua yang minum tuak. Sedangkan Manek sendiri, tak pernah menyentuh botol tuak dengan tangannya apalagi gelas dengan bibirnya.

Sakitmu tak kunjung sembuh, malah kau makin lumpuh. Tak ada ramuan yang berhasil memulihkanmu. Kau akhirnya meninggal. Tak ada alasan lain untuk mencurigai orang lain. Aku yakin Maneklah yang meracunimu. Di rumahnya.
Tak ada alasan yang lebih cocok bagi Manek, temanmu yang paling akrab untuk meracunimu selain iri hati. Kau selalu lebih dalam hal apapun darinya. Kau lebih cerdas darinya. Panenanmu lebih berhasil. Warisanmu berlimpah. Keluarga kita sejahtera. Maka menghilangkanmu dari dunia merupakan cara terbaik baginya untuk mendatangkan dukacita atas keluarga kita.

Sekarang kulihat dia di luar sana, Sayang. Ia datang untuk mengantar Lun no Klenas[4] di hari kematianmu. Tapi aku yakin, ia tak benar-benar bersedih. Jauh dalam hatinya ia bersukacita atas kematianmu. Dukacitanya adalah kegembiraan yang ia selubungi dengan air mata.

Maka, tenanglah di sini. Bagaimanapun juga, dendam tercipta untuk dibalaskan. Terlalu pedih bila kebenaran ini kusimpan sendiri. Aku akan mengganti kuning di matamu dengan membubuhkan juga kuning di matanya. Aku hanya butuh sehelai daun dari pohon mangga kita itu. Daun sirih.

                        ***

Kakakku, setiap orang yang hidup sudah cukup tua untuk dijemput maut. Maka aku tak pernah  mau menangisi kematian seorangpun di sini. Entah itu orang tua kita ataupun dirimu. Kematianmu adalah sukacita paling semarak untukku. Karena itu, aku tak ingin hadir pada pemakamanmu. Mungkin suatu saat ketika orang sudah melupakanmu sebagai pemegang harta warisan terbanyak, baru saat itulah akau akan merayakan kematianmu dengan segenap penghulu iblis.


Kakak, tahukah kau kalau istriku paling sering mengomeliku karena harta paling banyak diwariskan padamu? Tahukah kau kalau anak-anakku sering menjadi cemoohan tetangga  karena tidak bisa mempunyai peralatan seperti yang dimiliki anak-anakmu padahal kita masih keluarga? Tahukah kau kalau aku sendiri merasa diri tak berarti karena pada umurku yang setua ini masih dianggap menggantungkan hidup padamu? Maka untuk membuatmu tahu, aku harus membunuhmu.

Sebenarnya, sore itu bukanlah waktu yang pas bagiku untuk menghabisi nyawamu. Tapi kau tahu, memendam dendam itu seperti meminum sendiri racun sementara kau berharap orang lain yang mati. Dendam harus hilang. Meracunimu adalah cara terbaik untuk menghilangkan dendam. Lalu aku yakin sore itu adalah waktu yang paling tepat.

Aku tahu, Manek tak mungkin minum bersama kita sore itu. Ia diminta meminum beberapa ramuan untuk mencegah sakitnya yang menjalar. Minum tuak merupakan pantangan baginya. Dengan memintamu untuk singgah sebentar di rumahnya, aku tahu kalau ajalmu sudah mendekat. Kita duduk di pendopo, ketika Manek sedang berbicara dengan istrinya. Lalu kau bangkit berdiri dan mengeratkan  tali pada ikatan kayu bakar yang kau bawa dari kebun. Dengan pelan kutuangkan beberapa tetes racun yang selalu kubawa kemanapun juga untuk berjaga-jaga ke dalam botol tuak yang berisi tangkur buaya itu. Aku senang ketika dengan rasa haus paling purba kau menegak habis tiap gelas yang kusodorkan padamu.

Akupun turut minum, Kakakku. Tapi kenapa aku tidak mati? Betapa bodohnya aku bila memiliki racun tanpa mempunyai penawar. Tubuhku memang sakit karena meminum racun itu, tapi penawarnya membuatku bisa benar-benar sembuh. Aku senang ketika istrimu datang menjengukku yang sedang sakit di rumahku. Aku tahu dengan begitu ia tak akan mencurigaiku sebagai satu-satunya orang yang tega meracunimu. Dengan begitupula, istrimu hanya bisa menaruh kecurigaan pada satu-satunya orang yang paling karib denganmu. Manek.

Kakakku, ah masih layakkah aku memanggilmu kakak setelah semua yang kulakukan padamu?

                    ***
Sayang, tak ada yang bisa menggantikanmu. Aku belum rela kehilanganmu. Masih banyak yang tugasku yang belum selesai kutunaikan. Anak-anak kita masih membutuhkan sosok ayah, sedangkan aku belum terlalu kuat untuk memikul beban ini. Anak-anak barangkali rela untuk disebut yatim dan aku untuk dipanggil janda tapi celakalah orang yang membuat kami demikian.

Lihat, Sayang! Manek mengantarkan Lun no Klenas. Ia pikir aku tak bisa melihat iblis dibalik wajah malaikatnya. Senyumnya harus berhenti hari ini. Biar istri dan anak-anaknyapun turut merasakan penderitaan yang kita tanggung ini. Mata mesti ganti mata, bukan?

Aku telah menyuruh Berek, anak kita untuk memetik beberapa lembar daun sirih. Aku masih ingat kata-katamu dulu. Kita bisa saja menyumpah orang untuk mati dengan daun sirih ini. Akupun tahu cara melakukannya dengan baik setelah beberapa kali kudesak orang-orang tua untuk menceritakannya. Ya, aku akan melakukannya dengan baik kali ini.

                ***
Ulu, istrimu dengan setia meratapimu dari samping peti seolah-olah ialah yang paling kehilanganmu. Tidak, Ulu. Aku. Akulah yang paling kehilanganmu. Ia mengenalmu ketika kau tahu apa itu cinta, tapi aku mengenalmu ketika kita baru belajar mengeja nama mama. Sedangkan Ikun? Aku tak melihatnya di sini. Hanya istri dan anaknya. Apa yang terjadi padanya sampai-sampai tak bisa mengikuti penguburanmu? Apakah kau punya masalah dengannya?

Kini aku datang ke depanmu membawa Lun no Klenas. Ketika memasuki rumahmu, pandangan setiap orang seperti menghakimiku. Sedangkan, istrimu bahkan tak mau menatapku apalagi menjemputku dengan beberapa lembar kain yang kubawa. Aneh. Di ruangan ini udara tak hanya meniupkan aroma duka tapi juga dendam. Pasti ada yang salah di sini.

Kusodorkan bawaanku pada istrimu, tapi tiba-tiba matamu terbelalak. Langsung mengarah kepadaku. Dengan tanganmu yang dingin, kau cengkeram tanganku. Kuat sekali. Orang-orang berlari keluar. Mereka berteriak seperti kerasukan setan.

Keluargamu menangis menjadi-jadi. Hanya istrimu yang tak beranjak dari samping petimu. Kau tarik tanganku sampai-sampai tubuhku tertarik dan jatuh terjerembab ke dalam peti. Sepintas kulihat daun sirih di dalam petimu. Ini keramat. Lalu aura hidupku seperti melesap dalam tatapanmu. Mataku gelap, telingaku senyap. Dan semuanya berubah. *
Lasiana, November-Desember 2012
Keterangan (dari Bahasa Tetun):
[1] Rai Kmaus: Tanah Sukacita (Surga)
[2] Rai Balu: Tanah Seberang (Surga)
[3] Madomik Hun: Sumber Cinta Kasih
[4] Lun no klenas: Pengganti air mata
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Filsafat Agama (FFA) UNWIRA Kupang.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

grace

Cerpen Hans Hayon

"SUDAH
lama menunggu ya?" sapa seorang gadis seraya menghampiriku. Gadis yang telah lama ingin kujumpai. Aku tak tahu apakah cinta atau hanya sekdedar rasa iba, yang menjadi alasan mengapa ia selalu kurindukan.
Warung itu kelihatan cukup ramai sehingga kedatangannya sempat memancing kerlingan beberapa orang pengunjung.

"Ah...tidak juga. Aku pun baru tiba," balasku kalap, menyembunyikan setengah jam lamanya menanti kedatangannya. Dengan sigap kupersilakan gadis itu duduk tepat di hadapanku. Di balik punggungnya, kusaksikan aneka mata lelaki mengiringi pembicaraan kami.

"Dasar tidak pernah melihat gadis cantik!" gerutuku dalam hati. Tetapi kekagetanku kembali memuncak karena para wanita muda dan tua serta anak-anak pun ikut-ikutan mempelototi gadis ini."Apakah karena wanita yang duduk di hadapanku ini merupakan tipe wanita yang mereka idealkan, atau mungkin ada alasan lain?"

Gadis itu memang cukup familiar di kalangan publik. Mulai dari para kuli bangunan, anak jalanan, pelayan supermarket, tukang ojek hingga politisi dan ilmuwan paham betul siapa sosok wanita berlesung pipit itu.

"Kamu tahu tidak, aku ini sangat terkenal. Di pasar, sekolah, gereja, masjid, jalanan, rumah sakit, dan hotel selalu terpampang namaku: Grace," katanya sambil mengangat bahu diiringi senyum yang sumringah.

Aku paham betul akan gadis ini. Ia penuh idealisme. Pernah suatu kali ia bercita-cita
menjadi seorang perawat. Katanya perwat itu sosok yang langka karena hanya merekalah yang sanggup mengerti rasa sakit sebagai sebuah rahmat.

"Emm....tidak! aku ingin menjadi seorang guru. Tetapi, bukankah guru zaman sekarang sering didiskriminasi? Atau, sepertinya aku cocok jadi seorang wartawan. Tetapi, bukankah akhir-akhir ini banyak wartawan yang dijebloskan ke penjara karena nekat buka-bukaan soal fakta?" Gadis itu menghela napas lalu menatapku lekat.
"Kal, menurut kamu aku harus menjadi seperti apa ya?" ucapnya lirih penuh harap.
"Jadilah dirimu sendiri. Itu sudah cukup"
"Maksud kamu, sekarang aku ini orang lain?"

"Bukan begitu. Kamu hanya perlu berpikir dan berdialog dengan diri sendiri. Jangan pernah berkompromi dengan siapa-siapa tentang apa-apa agar jika terjadi apa-apa, kamu tidak dipersalahkan oleh siapapun"

"Kamu tidak sedang menyindirku, bukan?" katanya sambil memperlihatkan roman yang cemberut.

"Ya Tuhan, gadis ini begitu memikat. Sebegitu bodohkah diriku sampai tak menyadarinya?" gerutuku dalam hati. Mungkin karena karakterku yang selalu tak ambil pusing soal perasaan, apalagi yang namanya jatuh cinta. Aneh, memang.

"Grace, izinkan aku untuk memahami alasan mengapa kesedihan dan kebimbangan selalu akrab di wajahmu," ucapku dengan nada pelan dan hati-hati.

"Bukankah setiap kita berhak bahkan ditakdirkan untuk bersedih?"
"Bukan itu maksudku. Kesedihanmu itu disebabkan oleh manusia yang tak kenal moral." Aku begitu kaget ketika menyadari jika nada bicaraku semakin tinggi. Lalu, kami terdiam. Suasana warung yang tadinya ramai, menjadi hening. Bungkam.
"Bolehkah aku tahu, siapa pelaku pemerkosaan yang mengharuskan kamu mengandung bayi ini, Grace?" tanyaku penuh rasa iba sambil mengelus pundak tangannya.

"Tidak...Ikal! Biarkan itu terjepit sebagai masa laluku, sepahit apapun itu. Aku tahu ruang dan waktu kadang bertengkar, memperebutkan sesuatu yang tidak pernah sanggup dipahami oleh manusia. Kadang, sikap pasrah itu begitu mulia, bukan?"
Ada pecahan bening di bola matanya ketika pertanyaan itu terlontar tanpa kompromi. Tak bisa kubayangkan seperti apa kesedihan itu. Yang kumengerti adalah sisa pundak dan bayangannya yang mulai menghilang di hadapanku. Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
                                                     ***
Hari masih terlalu pagi. Terlampau pagi untuk takut. Terlampau pagi untuk berdoa. Terlampau pagi untuk berharap. Terlampau pagi menjadi manusia. Yah,,,,pagi ini segala sesuatu dianggap terlampau, sulit diterima sebagai kenyataan.
Warga mendadak dikagetkan oleh berita pada Headline koran lokal. "Lastri (bukan nama sebenarnya) mati dibunuh oleh seorang pejabat lokal. Diduga pelaku menikam korbannya mengunakan sebuah pisau. Dari hasil verifikasi diduga bahwa pembunuhan itu bersifat berencana dan sistematis. Pelaku sedang menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian".

Kuremas koran itu dengan perasaan hancur. Aku sedih bukan karena kematiannya, gadis pemilik ribuan idealisme itu. Alasan kesedihanku kali ini yakni kini manusia hidup dituntun oleh moral yang mati. Keyakinanku semakin memuncak ketika menyadari bahwa pejabat itu hanya sekedar berkunjung ke kantor polisi. Bagaimana tidak? Zaman ini, institusi pengadilan dan penjara tak lain hanya sekedar tempat rekreasi.(*)

* Hans Hayon, peminat sastra, mahasiswa STFK Ledalero. Sekarang menetap di unit Rafael Seminari Tinggi Ledalero-Maumere.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

surga terpendam

Cerpen Maria Soi Sinas

NADYA
, si Manja masih tak mau mengikuti live in yang diadakan pihak sekolah yang berlangsung selama seminggu sebelum akhirnya mau juga setelah diancam oleh ayahnya dengan ancaman pemblokiran kartu kreditnya. Bagi Nadya, live in sama saja dengan tinggal di "neraka" karena harus hidup bersama keluarga miskin, tanpa pembantu dan tanpa uang saku. Nadya telah membayangkan tinggal di neraka sebelumnya tiba di tempat tujuannya, karena meninggalkan rumah dengan segala kemewahannya bak hukuman mati untuknya.

Awal hari-hari Nadya sebagai anggota baru di keluarga Pak Paul membuat Nadya benar-benar menghayati dan merasakan benar seperti apa hidup di neraka. Kamar yang sempit, tempat tidur tanpa kasur empuk dan kelambu ditambah lagi ia harus berdesakan dengan Nia, putri tunggal Pak Paul.

Makanan yang sungguh ala kadarnya bagi Nadya membuatnya sangat tersiksa, hingga pernah keceplosan barkata, "Kalau tinggal selama sebulan di sini, aku bisa-bisa mati kelaparan!" demikian celoteh Nadya yang hanya bisa dibalas dengan senyuman  oleh Pak Paul dan keluarganya.

Semua sikap angkuh Nadya berubah setelah Nadya yang setiap hari memilih untuk tinggal di rumah saja, memutuskan untuk ikut ke sawah. Ia sudah bosan dengan suasana rumah yang tanpa hiburan apa pun. Tanpa TV, koran, majalah, tabloid apalagi komik kesukaannya. Yang ada hanyalah tape recorder yang sudah lama tidak bisa digunakan karena kehabisan baterai.

Tentu saja keputusannya itu membuat Pak Paul, istri beserta anaknya sontak terkejut dan tidak membiarkan sang tamu agung untuk ikut. Mereka mengira Nadya sedang sakit dan malah menyuruhnya untuk beristirahat di rumah. Nadya tetap memaksa dan akhirnya diperbolehkan untuk ikut.

Selesai mempersiapkan peralatan dan bekal, mereka semua bergegas ke sawah. Perjalanan menuju ke sawah tidak segampang yang dibayangkan Nadya. Selama ini dia membayangkan kalau Pak Paul, istri, dan anaknya pergi ke sawah yang jaraknya ± 5 km dari rumah itu dengan menggunakan alat transportasi. Ternyata tidak. Alat transportasi yang digunakan adalah kaki mereka sendiri karena tidak ada anggaran khusus untuk hal semacam itu.

Nadya yang tiap harinya, jika ingin pergi ke tempat yang jaraknya tidak sampai 1 km saja, minta diantar dengan mobil menjadi sangat kelelahan dan paling sering menggerutu dan banyak mencari alasan untuk beristirahat. Namun demikian, Nadya masih saja dan berjalan paling akhir. Pak Paul dan keluarganya yang mengerti betul keadaan Nadya tetap saja setia dan sabar menunggu Nadya dan menemaninya berjalan.

Mentari telah terik ketika Nadya beserta rombongannya tiba di sawah. Tanpa buang-buang waktu, Pak Paul, istrinya beserta Nia segera mulai bekerja mencabut anakan padi yang nantinya akan ditanam ulang. Sementara Nadya tengah terperangah melihat keindahan alam yang masih bersih dan asli. Ia memilih untuk beristirahat di bawah sebuah pohon dekat pematang sambil menjaga dua buah rantang bekal makanan dan minuman mereka. Pilihan pekerjaan yang paling gampang.

Nadya tidak pernah menyangka kalau di zaman sekarang, masih ada lingkungan yang tetap bersih, alami, dan indah. Tanpa polusi. Tidak seperti di kota tempat tinggalnya dimana alam telah dirusak oleh tangan terampil manusia. Limbah pabrik, sampah rumah tangga yang tidak bisa didaur ulang, asap kendaraan bermotor, penebangan liar dan pembangunan gedung di mana-mana mengakibatkan tidak ada lagi tanaman yang dapat tumbuh subur kecuali dengan bahan kimia yang juga tidak ramah lingkungan.
Karena kekagumannya terhadap keindahan alam ciptaan yang ada di hadapannya, membuat Nadya menyesali segala tindakannya yang telah banyak merusak alam. Salah satunya adalah meminta orang tuanya merombak taman belakang rumah menjadi kolam renang pribadi karena ia telah bosan dengan kolam di samping rumahnya.

Setelah puas memandangi keindahan alam itu, Nadya ingin merasakan bagaimana rasanya bekerja di antara indahnya alam. Ia ingin membantu pekerjaan pak Paul dan yang lainnya. "Walau harus berkotor-kotoran, setidaknya saya memperoleh pengalaman baru dan sekali seumur hidup," pikir Nadya. Namun saking semangatnya, Nadya tak sengaja menyenggol salah satu rantang bekal makanan hingga rantang tersebut terguling dan jatuh kedalam sawah yang berlumpur. Semua makanan berupa nasi, sayur dan lauk untuk mereka berempat yang ada di dalam rantang tersebut berhamburan di petak sawah yang baru selesai di bajak. Berlumuran lumpur.

Semuanya terjadi begitu cepat sehingga Nadya tak sempat berbuat apa-apa, kecuali memandang makanan yang telah menyatu dengan lumpur itu dengan penuh sesal dan disusul permohonan maaf pada Pak Paul dan keluarganya yang juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Rasa penyesalan Nadya kian bertambah tatkala ia meminta maaf kepada Pak Paul dan keluarganya. Namun Pak Paul berkata kalau tidak ada kejadian yang luar biasa, jadi tidak perlu minta maaf karena kejadian itu hanyalah kecelakaan kecil dan untungnya hanya makanan yang jatuh, bukan Nadya.

Kata-kata yang yang kemudian dibenarkan oleh istri dan anaknya dengan anggukan dan senyum lebar membuat Nadya sangat menyesal dan bertanya dalam hatinya, "Apakah hati mereka terbuat dari emas murni? Meskipun aku telah banyak menyusahkan, tetapi mereka tidak pernah memarahiku, mereka sangat sabar". Padahal Nadya bisa melihat kekecewaan di mata mereka karena jatah makan untuk siang ini telah raib dan yang tersisa hanyalah satu rantang berisi lima tongkol jagung rebus sisa sarapan pagi tadi dan sebotol air minum yang untungnya selamat dari kecelakaan tadi.

Mentari tepat berada di atas kepala, ini waktunya makan siang bagi para petani, termasuk Pak Paul, istrinya, Nia, dan Nadya yang ikut membantu. Segera mereka menghentikan pekerjaan mereka dan bergegas menuju tempat makanan berada. Makan siang bersama diawali dengan ucapan syukur melalui doa yang dipimpin oleh Nia yang membuat Nadya bingung.

"Kenapa harus bersyukur untuk sesuatu yang tidak begitu istimewa? Haruskah bersyukur untuk lima tongkol jagung?" pikir Nadya tak percaya.

"Pak, mengapa kita harus mengucap syukur hanya untuk lima tongkol jagung?" tanya Nadya pada Pak Paul di sela-sela makan. Meski kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan padanya, Pak Paul tetap tersenyum sambil menjelaskan pada Nadya bahwa mensyukuri apa yang ada dan yang kita miliki itu perlu, karena beruntung masih memiliki makanan. Masih banyak orang yang sampai saat ini belum makan karena tidak  memiliki makanan. Bersyukur tidak hanya untuk makanan tetapi untuk apa saja yang kita dapatkan.

Nadya sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sungguh tak percaya. Padahal di rumahnya, Nadya tak pernah berdoa, apalagi bersyukur dengan apa yang telah ia miliki. Ia justru selalu merasa kurang dan selalu menuntut. Baginya, ucapan syukur hanya pantas diucapkan di saat-saat bahagia dan mendapat sesuatu yang istimewa. Itu pun kalau ingat! Mendengar kata-kata Pak Paul membuat Nadya yang sejak awak masih enggan makan, kini menjadi lahap menghabiskan sisa jagung miliknya. Ia tak mau lagi membuang-buang makanan seperti yang biasa ia lakukan di rumahnya, apalagi setelah ia merasakan sendiri betapa sulitnya mencari makan. Tidak semudah menggesek kartu kredit pada mesin ATM dan menghabiskan uang untuk berbelanja di mall. Padahal banyak orang yang tidak mendapat makan.

Di rumahnya Nadya selalu bingung dengan apa yang hendak ia makan karena semuanya telah tersedia, sedang orang lain pada saat yang sama justru langsung dengan apa yang hendak mereka makan karena tidak ada pilihan lain.
Pengalamannya hari itu sungguh telah mengubah cara hidup Nadya. Sisa waktu live in-nya ia gunakan dengan sebaik mungkin.

Nadya merasa seperti tinggal di dunia yang beda. Dunia yang indah dan penuh kedamaian. Tempat yang disangkanya neraka, ternyata adalah surga yang terpendam. Karena itu, ia berjanji akan membuat surganya sendiri di rumahnya. Ia tak ingin lagi merusak alam. Tak akan nada lagi Nadya yang manja dan selalu menuntut tanpa rasa puas. Justru ia akan berusaha untuk menjadi dewasa dan mandiri, dan yang terpenting adalah belajar untuk selalu bersyukur.

Live in sungguh telah mengubah hidupnya sehingga tak heran, jika sehabis kegiatan itu, banyak yang mempersoalkan masalah ini. Mulai dari orang terdekat sampai  yang terjauh. Tua-muda, kawan-kawan pun tidak ketinggalan, apalagi peri-peri gosip di sekitar rumahnya. Nadya telah menemukan surga yang sesungguhnya di dunia.
Terima kasih Tuhan atas cinta-Mu untukku. Terima kasih untuk segalanya. Aku takkan lagi menyia-nyiakan cinta-Mu. Terima kasih live in. Demikian tulis Nadya dalam buku hariannya. *

* Lili, 14 Februari 2012.
* Cerpenis adalah mahasiswi Akbid Poltekes


-----------------------------------------------------------------------------
Dalam BoxPengiriman puisi dan cerpen untuk dimuat pada halaman Imajinasi Pos Kupang melalui alamat  email ini: imajinasiruang@ymail.com
------------------------------------------------------------------------------

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

Selembar Kisah Bersama Laut

Cerpen Arie Putra

AKU
sengaja menjauh dari rombongan perjalanan kami. Menuju ke arah timur pantai ini, aku berjalan sambil menyaksikan permainan ombak yang memecah bebatuan pantai.

Ketika berjarak sekitar tiga kilo meter dari tempat teman-teman serombongan berkumpul, aku membenamkan diriku pada naungan sebuah batu besar. Lalu sesegera mungkin aku mengeluarkan isi tas rangsel yang kubawa. Pelan-pelan kegeser keluar sebuah novel berjudul An Indicent Obsession tulisan Collen McCullough, sebuah elektronik translator, pulpen dan botol air.

Aku ingin membuat sebuah catatan yang sangat berbeda dari catatan harian yang pernah kutulis. Aku sungguh merasa bebas untuk menulis apa saja di tempat ini. Aku juga bebas untuk melakukan apa saja. Aku bahkan sengaja berbicara sendiri di tempat ini. Memang ini sedikit gila, namun sangat mengasyikkan. Aku berniat untuk memberikan kesempatam kepada mulutku untuk berbicara dan hanya didengarkan oleh telingaku sendiri.

Aku mendapatkan inspirasi dari film The Life of Pi untuk menuliskan catatan ini. Pemuda setengah baya yang menjadi pemeran utama dari film ini menuliskan catatan hariannya di atas sebuah perahu kecil di tengah samudera. Dan catatan itu begitu berharga bagi hidupnya. Catatan itu pula yang kemudian dijadikan sebagai bukti pengalamannya di tengah lautan bersama si harimau yang pada akhirnya menjadi sahabatnya.

Dari balik naungan batu ini, aku sungguh menyadari bahwa dunia ini begitu luas. Begitu unik. Bagiku, lautan adalah sebuah ide yang tak pernah tuntas untuk ditulis dalam karya-karya besar dan tak pernah habis dipikirkan. Ada hal-hal yang tak selesai dalam pembicaraan tentang laut. Rahasia besar terus membentang hingga ke ujung cakrawala di sana. Siapapun tak pernah mampu menangkap maksud misteri lautan ini.
Aku ingin memotret semua yang ada di sini.

Percikan air laut yang kadang melompat di atas bebatuan lalu ikut menyusup di atas kertas catatan ini. Aku tertegun menyaksikan permainan air ini. Ia menggulung dari tengah lautan lalu seketika ia menampar bebatuan pantai lalu terhuyung-huyung kembali ke tengah laut. Ada gelora yang tak terlukis di sana. Entah apakah itu.  Ini merupakan situasi yang berbeda bagiku. Suatu situasi yang sangat berbeda di ruang kuliah, di emperan pertokoan pusat kota dan di gedung-gedung bertingkat. Apalagi di ruang para wakil rakyat. Situasi ini hanya terdengar dari dalam rekaman pita mati dan diputar kembali saat meditasi pada padri di biara-biara sunyi.

Di sini, situasi ini begitu alami. Deru lautan tercebur dengan kekuatan bebunyi yang asli. Deru ini tidak diatur oleh angka volume speaker. Forte dan mezzoforte-nya diatur oleh kekuatannya sendiri. Air ini berlomba-lomba melemparkan dirinya ke tepi pantai. Kadang dalam hati aku bertanya, siapa yang mengutus air laut ini sehingga datang menampar dan memandikan bebatuan di tepian ini ?

Aku merasa sangat istimewa di tempat indah ini. Hanya akulah mahkluk manusia yang ada di pantai lengang ini. Aku ingin sekedar bercakap-cakap dengan batu besar yang tegak di balik punggungku. Ia sangat setia memberikan naungan untukku. Aku berterima kasih kepada laut sebab airnya yang bening dapat kurengkuh dalam jemariku dan kumainkan. Laut setia menyayikan lagunya yang indah. Aku berterima kasih kepada angin. Desirannya yang lembut, segar dan menentramkan membuat aku bermakna.

Walau tanpa kamera digital untuk memotret tempat ini, aku setia berjibaku dengan catatan ini. Aku lebih suka mengabadikan moment indah di tempat ini dalam tulisan. Aku mengeja detail-detail keindahan yang menghampar di seluruh bagian pantai ini. Aku ingin menjadi wartawan.

Wartawan yang ingin mewartakan keindahan di seantero tempat ini. Orang banyak boleh  saja mengatakan Bali, Jakarta, Raja Ampat atau Labuan Bajo itu indah, namun bagiku keindahan tempat-tempat itu tak dapat dibandingkan dengan tempat ini. Di sini tidak terdengar kebisingan. Tidak ada tenda-tenda untuk aktivitas bisnis, tidak ada rongrongan kapitalisme, tidak ada wisatawan telanjang yang menerbitkan birahi.

Di sini engkau akan mendengar decak-decik lautan, engkau akan tahu apa artinya hidup dan engkau akan tahu apa makna laut itu. Engkau akan tahu keasrian alam ini. Selama ini, engkau mungkin hanya menatap keindahan alam dalam tabung kaca televisi atau di ruang tamu para pejabat malas.

Sekarang gulungan ombak kian menari ria. Ia tenang merayu. Aku menjulurkan ujung kakiku di ujung gulungan itu. Aku merasa dipeluk. Lautan ini begitu mesra. Aku semakin betah dengan kesendirian ini. Aku ingin bercinta dengan air laut ini sepanjang hari. Sejenak aku mengarahkan pandanganku ke arah rombongan yang berada jauh dariku. Rupa mereka begitu kecil. Mereka sangat jauh dariku. Mereka belum beranjak.

Aku kembali menyusupkan tubuhku di dalam naungan batu untuk melanjutkan catatanku. Pantai ini terletak di Kampung Mondo, Ende Lio. Tempat ini jarang dikunjungi oleh orang-orang luar. Mungkin hanya aku dan teman-temanku dalam rombongan saja sebagai orang luar yang menginjakkan kakinya di tempat ini. Pantai ini begitu perawan, indah dan menawan. Bebatuan di sepanjang pantai begitu mulus bagaikan betis dewi. Decak-decak bebunyian lautan seperti suara lembut yang terbang keluar dari celah bibir putri kayangan yang elok.

Aku sesungguhnya tak pernah puas dengan petualangan ini. Aku ingin menyingkap lebih dalam keindahan alam pantai ini. Sekitar beberapa meter dari bibir pantai ada segerombolan anak-anak ikan mengejekku. Gerak-gerik mereka seakan mengatakan,

"Ayo.. turunlah dari naungan batu itu, berenanglah bersama kami. Asyik lho berada di bawah air !" Aku hanya tertegun dari balik naungan batu itu sambil tersenyum. Lalu aku menjawab percakapan sunyi dengan kelompok anak ikan itu, "Coba kalu kamu mau, kamu yang melanjutkan catatan ini supaya aku bisa berenang". Tiba-tiba gerombolan anak ikan itu menceburkan dirinya ke tempat yang lebih dalam. Sambil mencak-mencak aku mengatakan kesalku, "Sialan.. kamu mengajakku untuk berenang kamu pula yang kabur duluan. Dasar anak ikan nakal".

Terik cahaya matahari tengah hari merongrong tempat naunganku di bawah batu ini. Aku menggeserkan tubuhku ke ruang batu itu semakin dalam. Keteduhan pantai itu membuatku tak ingin beranjak pergi. Aku sunguh mencintai laut ini. Apapun yang akan terjadi aku selalu ingin setia dengan laut. Aku tak ingin berhenti menulis laut dalam catatan harianku. Aku ingin menjadi laut.*

* (Dalam Keheningan Pantai) Mondo, 27 Maret 2013.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

Thursday, September 30, 2010

KARYAKU

KEBERSAMAAN
                                                                                       BUAT AS.3 PUTRA N ALFA OMEGA



HARI DEMI HARI KITA LALUI
TAK SEDETIK PUN KITA LEWATI
TANPA CANDA TAWA DAN
DERAIAN AIR MATA............
                                      


BERSAMA KALIAN.........
KU MERASAKAN INDAHNYA HIDUP
BERSAMA KALIAN........
KU TAHU ARTI HIDUP INI



KALIAN MENGAJARKAN KU
MENCINTAI,MENGASIHI,DAN SOLIDER
MEMAHAMI KALIAN SATU PERSATU
DAN BELAJAR KARAKTER DIRI.

KALIAN MENJADI INSPIRASIKU,
PEMBERI SEMANGAT,
PENDOBRAK MASA DEPAN
DAN PELIPUR LARA KU...


JIKAULAH TUHAN MENGIJINKAN
KU INGIN SAAT INDAH INI
JANGAN PERNAH TERLEPAS
DALAM GENGGAMAN HIDUPKU
KARENA..............
KALIAN SEMUA BEGITU BERARTI BAGIKU.....
BY DECKY REYANI