Friday, May 24, 2013

jejak misterius

Cerpen Agustinus Umbu Hemba
HARI minggu, merupakan hari yang paling kami tunggu, hari kebebasan kami dari dunia pendidikan, hari kemerdekaan bagi anak-anak kampung Kahale, hari bermain !

Aku, Ardi, Bento dan Guto, sudah menyiapkan peralatan, hari ini kami akan  mencari ubi hutan di sekitar Hutan terlarang. Ini diluar jadwal kami minggu lalu, jadwal awalnya kami akanbermain Pasola, karena persedian makanan dirumah habis, memaksa kami untuk mencari ubi hutan disekitar Hutan Terlarang.

Kami bergegas ke hutan terlarang, sekitar hutan terlarang sudah kami sangat kenal, hampir setiap hari,sepulang sekolah, kami mencari ubi hutan, bahkan jejak hewan atau manusia bisa kami bedakan lama atau baru. Namun satu hal yang tidak pernah kami ketahui adalah hutan terlarang, setiap orang dilarang masuk kedalam, mencari ubi hutan pun hanya di sekitar hutan tidak perbolehkan melewati garis pembatas.

Menurut cerita ayah dan ibu, hutan itu hanya tua adat dan para rato marapu yang boleh masuk, itu pun setahun sekali atau ada acara adat atau semacamnya, jadi sebelum ritualkan dilaksanakan harus minta restu dari leluhur yang tinggal dalam hutan tersebut. Lain hal dengan acara ritual penyembuhan orang sakit atau yang masih ringan, cukup memberikan persembahan didalam kampung, karena dalam kampung sudah ada altar yang sudah disiapkan, bahan-bahannya diambil dari hutan terlarang tersebut.
                    ***
Sang surya  sudah tepat diatas kepala kami, namun ubi yang kami cari belum banyak. Aku mulai gelisah, cacing dalam perutku mulai mencabik sedikit demi sedikit isi perutku, sehingga rasa sakit.
" Rangga, sini sebentar". Ardi memanggilku.

"Ada apa?".

"Kamu perhatikan jejak ini, masuk dalam hutan".

"Ini jejak orang dewasa, tapi ada jejak sepatu juga".

"Bukankah ritualnya masih satu minggu lagi?".

"Betul".

"Itu jejak orang asing, tua adat dan para rato tidak menggunakan alas kaki".
Kami dilanda kegelisahan, jejak-jejak itu membuat kami tidak tenang, hutan itu adalah hutan yang sangat angker, bahkan setiap pinggir hutan sudah  di pasang papan pemberitahuan serta batas yang boleh dimasuki dan tidak boleh dimasuki.
Kami memutar kearah timur, tapi hal yang buat kami terkejut, semakin banyak jejak yang masuk dalam hutan.

"Rangga, bagaimana ?, harus kita laporkan di ketua adat".

"Jangan! kita ikuti jejak-jejak itu".

"Apa? Kau gila, apa kau mau mati dihutan itu".

"Jangan jadi pengecut, ayo kita ikuti".

"Tidak mau!, Guto dan Bento tampak protes".

"Dasar pengecut".

"Ayo Ardi, kita masuk".

Didorong oleh rasa penasaran yang begitu besar, aku dan Ardi mengikuti jejak-jejak
itu. Dan jejak-jejak itu makin jelas. Kurang lebih sudah satu jam kami mengikuti jejak-jejak tersebut,hutan itu semakin lebat, berbagai macam tumbuhan ada di situ dan pohon-pohonnya sangat tinggi dan besar. Nyali kami agak kecut, suasananya sangat sepi. Mulut Ardi tampak komat-kamit  membaca mantra. Kami harus hati-hati agar tidak tergores semak berduri.

Di tengah hutan kami melihat seekor babi hutan dililit ular piton yang angat besar, tanpa di beri aba-aba kami lari terbirit-birit. Kami terus berlari tanpa menghiraukan semak belukar di depan. Ketakutan kami lebih kuat pada goresan semak belukar. Sambil terengah-engah  kami mengatur napas di bawah, napas kami belum teratur, dikejutkan dengan suara sayup-sayup dan suara itu semakin jelas.

Kami mengendap-endap mencari sumber suara itu. Di depan kami ada sebuah goa, disisi kanan dan kiri dibangun gubuk kecil, semacam rumah jaga. Aku dan Ardi saling pandang, dan jelas wajah kami pucat.

" Masih ada keberanian ?." ardi menantangku.

" Karena kita sudah di sini, harus tahu apa yang terjadi".

" Ayo masuk !".

Aku dan Ardi terus masuk dalam goa, suara yang kami dengar sudah lama menghilang, kami semakin jauh masuk kedalam, tidak bisa lagi membedakan malam dan siang, goa itu hanya diterangi beberapa obor dan lampu pelita. Dan hal yang tidak dapat dipercaya, kami menemukan ruangan yang besar, serta altar pemujaan yang besar, altar itu sangat mirip dengan altar di desa kami untuk menyembah arwah leluhur, yang membedakannya altar ini lebih besar dan diapit dua batu pipih yang besar, yang biasanya untuk menyimpan persembahan.

Saat aku dan Ardi mengamati altar, dari kejauhan kami mendengar suara orang,
mungkin sekitar 6 atau 7 orang, mungkin juga lebih. Kami segera sembunyi di batu besar. Selang beberapa saat, kami melihat beberapa bayangan manusia muncul dari sisi kiri dan kanan altar. Gerombolan itu dengan serentak menghadap altar lalu duduk bersila, keadaannya menjadi hening, seorang laki-laki  berdiri dan menyalakan
beberapa obor, ruangan  menjadi terang.

Aku dan Ardi seperti disambar petir di siang bolong dan kami tidak yakin, apa yang disaksikan. Mata kami melotot ke-empat sosok bayangan, wajah mereka tampak berseri-seri. Belum habis rasa kaget, dari belakang altar muncul sosok bayangan manusia penuh dengan wibawa dan karisma yang sangat kuat, aku dan Ardi muncul rasa kagum pada sosok tersebut. Sosok itu tersenyum, lalu duduk bersila menghadap gerombolan manusia itu. Di belakangnya ada beberapa sosok bayangan manusia yang sangat kami kenal. Secara serentak orang-orang mencium tangannya, lalu kembali  tempat masing-masing.

" Rangga, kenapa orang tua kita disini ?".

" Sssttt..bukan Cuma itu, lihat di belakangnya, kepala desa, tua adat dan para rato
juga ada !"

" Jadi ini alasan, kita dilarang mauk dalam hutan ?".

" Entalah".

Sosok itu sangat tenang, wajahnya putih bersih, dan berseri, suasana hening kembali. Secara perlahan menutup kedua matanya, mulutnya komat-kamit, sekitar lima belas menit kemudian, ia membuka matanya, dan tersenyum.
"Hari ini permintaan akan dikabulkan ".
"Hidup yang mulia......".

"Saudara-saudaraku, tolong sebut permintaannya satu per satu".

"Aku ingin kaya ".

"Aku ingin panen yang melimpah".

"Aku ingin naik jabatan "

"Aku ingin menang judi".

"Aku ingin usahaku sukses".

"Aku ingin angka bagus".

"Ruangan menjadi gaduh.

"Rangga bagaimana ini ?".

"Aku tidak mengerti apa yang terjadi !".

Pembicaraan kami belum habis, tampak bayangan manusia berdiri disamping kami berdua, wajah kami pucat, belum sempat berpikir, secepat terkaman macan, sosok itu mencoba menangkap kami. Sekuat tenaga kami berlari, dua orang itu terus mengejar kami,hingga kami kehabisan tenaga, aku dan Ardi jatuh saat melewati jalan agak curam, kesadaranku menipis tapi masih empat melihat Ardi yang pingsan karena kepalanya terbentur batu, sedangkan dua orang sosok manusia sudah berdiri di sampingku. *

BIODATA
Nama:    Agustinus Umbu Hemba
Alamat:    Jalan Elang No.2 RT/RW 001/001,Kel.Bonipoi
Pekerjaan:    -
Alamat email:    agustinus_umbuhemba@ymail.com

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment