Friday, May 24, 2013

nyanyian jiwa sang gadis desa

Cerpen Ronny Manas

MENTARI
baru saja menghilang dibalik barisan bukit-bukit batu, ditelan horison pada ujung senja hari itu. Pijaran lampu-lampu listrik di sepanjang pesisir pantai tempat pariwisata itu perlahan menunjukan kemolekannya dalam rahim malam. Tak mau kalah bersaing, cahaya pelita-pelita peot yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas dan sisa benang tenunan selendang sutera gadis-gadis desa pun mulai menari terseok-seok dari dalam gubuk-gubuk bambu di kampung gadis itu.

Sebuah gambaran keaslian suasana kampung dan ketertinggalan yang masih mengakrabi masyarakat kampungnya. Meski dian-dian suram itu tak mampu melawan benderang lampu listrik tapi mereka tetap riang menerangi malam karena mereka juga ingin mengubah gelapnya malam. Rasanya mereka sama dengan nur rembulan purnama yang memerah di ufuk timur kala bumi tak menghalangi cahaya mentari.

Padahal cerita singkat dari kota-kota besar yang tak membutuhkan parafin dan dian tentang zaman modern telah didengar dari bibir sesamanya yang berdomisili di ibu kota negara. Katanya  dunia terus berubah rupa setiap saat dan di sana listrik tak pernah padam meski hari telah siang. Padahal kampungnya tak pernah berubah.

Rupanya perubahan itu hanya berpihak pada orang-orang kota. Itulah sebabnya masyarakat pedesaan tidak punya pilihan lain selain memeluk erat ketertinggalan bak sahabat hidup hanya untuk memendam rasa dan asa yang merasuki jiwa, "Betapa aku ingin seperti kamu!". Nyanyian jiwa orang-orang kampung di setiap suasana minum kopi sore.

Hasrat yang menjadi kidung senja di setiap sudut hari ini, tidak saja tinggal dalam awang-awang orang kampung yang tak berpendidikan, namun tertanam juga dalam jiwa sang dara desa yang sudah lama lulus SLTA. Ia tak tahu kapan mimpi itu akan berkecambah. Meski demikian ia juga tidak mau berteriak layaknya tetua kampung atau turut dalam perbincangan pengaduan mereka yang tak pernah didengar.

Ia memilih berdiam diri dan mengemas rapi impian itu dalam benaknya. Semua harinya ia lalui apa adanya bersama orang-orang desa yang masih bergantung pada nasib. Ketergantungan pada alam digenggamnya erat walau sangat bertentangan dengan bisikan nuraninya. "Rusti, kaulah satu-satunya gadis desa kita yang mengenyam pendidikan hingga tamat SLTA," kata orang-orang kampung padanya. Itulah sapaan akrabnya di kampung.

                        ***
Tak tahu kenapa, malam itu seluruh kisah masa kecil bersama sang kakek yang telah dipanggil sang Khalik ke taman eden selepas Rusti menerima Komuni kudus, justru menjadi khayalannya. Tidak seperti malam kemarin atau pun malam-malam sebelumnya yang telah usai dengan kisahnya tanpa kehadiran penggalan cerita masa kecilnya, walau masa itu sulit terhapus dari memorinya.

Kronologi kisah ciliknya membias pada kedipan binar bola matanya di sela kilatan cahaya lampu minyak yang menerangi malam itu, membuat dirinya seperti kecil lagi. Karena tak kuasa mengusir kisah cilik yang terus menghantuinya, ia mulai menceritakannya meski tak ada orang lain yang mendengarnya selain bayangan dirinya yang selalu berada di dekatnya.

"Selepas makan malam, aku biasanya mengajak kakek duduk di depan rumah. Kami  bercerita sambil menatap langit penuh bintang gemintang. Kakek pernah bilang, `Jangan memandang malam sebagai sebuah ketakutan.

Malam juga punya keindahan. Waktu malam kau dapat menyaksikan rasi bintang waluku yang menandakan musim hujan segera datang. Saat malam pun kau dapat menonton meteor-meteor yang beterbangan ke bumi dengan nyalanya yang panjang. Kau juga dapat mengerlingkan matamu pada bintang-bintang kecil yang berjalan, berpindah dari tempat pertamanya menuju sudut langit yang lain.

Seandainya tak ada bintang, pasti langit selalu gelap jika bulan tak muncul di angkasa. Kau juga akan tahu kalau bulan selalu berubah rupa setiap malam. Dari sabit sampai purnama pada malam hari. Kau tak pernah melihat benda-benda itu pada siang hari karena mereka adalah benda-benda malam yang tidak muncul pada siang hari. Sambil mendengar cerita dari kakek, aku sering menghitung jumlah bintang tapi tidak pernah berhasil menghitungnya karena jumlahnya terus bertambah.

Selalu ada bintang yang lebih terang. Dan saya sering meminta kakek mengambilnya untukku tapi kakek selalu bilang, `kamu adalah bintang yang selalu menerangi duniamu sendiri. Tak perlu aku memberimu bintang dari langit lagi. Kamu sudah punya banyak bintang yang selalu bermain mata'. Dan  ia terus bercerita sampai aku tertidur di atas pangkuannya".

Kisah masa kecilnya itu meninabobokannya dan membuatnya tertidur pulas di atas ranjang hingga malam pergi diusir terang.

Musim panas telah lewat. Meski demikian, sengatan panasnya masih saja terasa. Butiran air mata langit yang dinanti-nanti masih saja bersembunyi di balik tingkap-tingkap awan kelabu. Bentangan lahan yang telah digarap tampak bertelanjang dada. Tak berpakaian. Kekeringan berdaulat penuh atas semua makhluk yang hidup. Kehausan, kelaparan, kemelaratan kian kejam. Alam tempat pengungsian dan lumbung penampung segala belum juga memberikan reaksi seperti biasanya.

Nyanyian rumpun-rumpun bambu ketika tertiup angin barat dari gunung yang kering ke utara, terasa begitu sumbang. Firdaus yang berdandanan rerumputan hijau dengan pepohonan yang berriaskan butiran embun di kala fajar merekah entah bersembunyi di mana. Dia mencoba mencarinya di balik kecongkakan laut lewat gulungan gelombang-gelombang laut selatan, tapi tak dijumpainya.

Dengan bertudungkan purnama malam, ia mencarinya di dalam rahim hutan, menelusuri ketiak-ketiak pepohonan tua yang telah lanjut usia. Pepohonan itu hanya bergumam bijak karena curiga padanya. Mungkin ia akan mencurinya ketika penghuni hutan tertidur dan mendengkur.

Sayang! Dugaanya salah. Alam justru mengalami nasib yang sama; penghuninya tengah menanti kapan langit akan menangis karena duka langit adalah sukacita bumi. Dan ia memberanikan diri mencarinya di tengah keramaian kota, di emperan-emperan toko hingga menelusuri tiris-tiris kastil para kaum bermodal dan elit politik, namun mereka lebih bisu dari alam, kecuali menatapnya dengan sinis.

"Mengapa mereka begitu kejam dari alam?" tanyanya selepas mendatangi kota.
"Firdaus masih dalam genggaman para elit yang telah menyalamimu dengan diam dan lirikan sebelah mata. Mereka yang sering menjanjikannya. Karena itu mereka sendirilah yang menyembunyikannya," bisik sang bayu padanya sembari membeberkan alasan tuduhannya.

Nyaris ia berteriak, namun ia sadar ia tak punya kata yang cukup untuk membahasakan apa kata jiwanya tentang harapannya yang tinggi, juga orang-orang yang selama ini berbagi duka bersamanya menanti kelahiran firdaus baru. Serentak petuah terakhir sang kakek terngiang di telinganya,

"Nak, saat aku telah tiada dan engkau beranjak dewasa, hidupmu akan menuntut aneka tuntutan dan tanggung jawab. Kamu harus berjuang. Jangan  tanyakan pada alam, apa lagi mengadu di balik ketangguhan barisan karang, karena alam tak tahu menipu, karang pun tak tahu bagaimana menyembunyikan sebutir pasir maupun setetes air laut. Ingat! Laut tak akan kering. Begitulah dengan hidupmu.

Ombak-ombak kehidupanmu tak akan berhenti menggulung bahkan akan menggunung dan tak pernah lelah berlarian menuju tepian, datang menyurutkan pasir-pasir hidupmu yang berkilau. Kebahagiaanmu bak mutiara nan berharga yang takkan pernah kau temukan jika kau hanya mengharapkan laut mengering dan alam menggundul.

Semuanya akan menjadi mungkin jika kau memiliki keberanian untuk menyelam ke dalamnya, tenggelam ke dasar laut dengan seluruh keberadaanmu. Pada saat itu engkau akan melihat mutiara itu bercahaya karena hanya orang yang memiliki keberanianlah yang pantas memiliki hidup ini". Rusti terdiam.

Otak brilian yang dimilikinya seakan kehabisan daya untuk bekerja. Dingin! Entah apa yang harus diperbuatnya. Dan purnama itu kembali. Dengan malu menebar senyum lewat celah-celah gumpalan awan. "Mungkinkah aku akan mengerti apa dibalik bulan jika aku tak pernah memahami rahasia awan?, sementara sebelum sempat aku akan mengerti rahasianya justeru awan telah hancur menjadi titik-titik hujan".

Kekesalan begitu menyiksa dan ia meyambung; awan kaulah satu-satunya kehidupan langit yang tak pernah memiliki tempat perhentian. Langkahmu tak pernah meninggalkan bekas, namun pada pundakmu yang maha lembut bergantung bulan dan bintang-bintang.

Di langit tiada juga pondok bagimu tuk sejenak membaringkan ragamu yang berjejak tanpa henti namun bumi subur akan butir tangisanmu yang kau teteskan dari ragamu. Haruskan aku mencari jejakmu di bumiku yang kering ini? Atau pada penghuni bumiku yang  yang tela mati urat kepeduliannya? Andai saja kau dapat berkata ajarlah kami..juga para pembesar negeri ini agar mampu membusanakan karakter tulusmu. Membiarkan pundak mereka memikul penderitaan rakyatnya-merobek kantung baju dan celananya demi melunasi utang kelaparan dan kehausan rakyatnya?*

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment