Friday, May 24, 2013

Ada yang Menyisip Daun Sirih ke dalam Peti

Cerpen Saddam HP

TEMANKU
, kematian adalah bayangan kita sendiri. Sejauh kita memiliki bayangan sejauh itu pula kematian mengikuti kita. Ia adalah sahabat paling karib. Bahkan jauh lebih karib dari pada kita berdua. Tapi, aku tak menyangka ia akan menjemputmu secepat ini.

Perjalananmu hanyalah dari muka bumi ke dalam tanah. Tapi, betapa menyedihkan perjalanan itu. Kini, aku hanya bisa berdiri di bawah pohon mangga. Kakiku belum terlalu kuat untuk kulangkahkan ke dalam rumah.

Dulu, ketika ayahku meninggal, kau menghiburku dengan cerita-cerita yang awalnya tak pernah kupercaya. Tentang orang mati yang hidup kembali setelah jenasahnya dilewati seekor kucing, tentang jiwa orang mati yang bisa berbicara dengan perantaraan tubuh lain, tentang indahnya Rai Kmaus[1] , tempat semua jiwa berkumpul.

"Manek, tak usah lagi kau menangis. Harusnya kau senang karena Ama akan sangat berbahagia di sana."
"Berbahagia seperti apa, Ulu?"

"Kata orang, di sana setiap jiwa hanya perlu memasak nasi sebutir untuk waktu yang lama. Kalau kau ingin makan dagingpun, hidangan itu akan langsung tersedia dihadapanmu."

"Apakah nanti aku juga akan ke sana, Ulu?"
"Bisa saja. Asalkan kau tak boleh mati tenggelam dalam banjir, nyaris seperti kemarin. Haha."

Kau bisa saja tertawa waktu itu dengan pengetahuanmu, Ulu, tapi keajaibanmu sewaktu kecil membuatku selalu terperangah. Kaupun selalu bisa menjadi bocah ajaib yang melindungiku. Dari hal yang paling kecil seperti digigit kalajengking atau ketika aku hampir tenggelam dalam banjir. Selalu ada kau yang mengajarkanku bagaimana mengoles ludah sendiri pada bekas gigitan kalajengking dan juga cara mengapungkan diri ketika banjir hampir menenggelamkanku.


Maka, mendengar kematianmu adalah hal paling mustahil yang harus kuterima. Seingatku tak ada yang ganjil sore itu. Hanya ada kita bertiga; Ikun, kau, dan aku. Aku masih ingat Ikunlah yang menuangkan tuak yang kurendam dengan tangkur buaya ke gelas kalian berdua. Aku tak bisa minum bersama kalian. Ketika istriku membawakan botol tuak itu, iapun mengingatkanku untuk berpantang. Sehingga aku hanya melihat kau dan Ikun menghabiskan isi botol itu sampai kalian pulang dalam keadaan mabuk berat.

Keesokan harinya, Bui Bete mengatakan padaku kalau kau sedang sakit keras sehingga tak bisa bersamaku ke kebun. Begitupula dengan Ikun. Namun, sakitnya tidak lebih parah dari pada sakitmu. Hari berikutnya, orang-orang mulai memberitakan di seluruh kampung kalau kau mati keracunan. Ah, aku masih belum percaya kalau kau mati. Lagi pula siapa yang tega meracunimu?

                            ***

Suamiku, kematian mungkin adalah jalan lain menuju kehidupan baru. Meskipun hanya pergi ke Rai Balu[2], tapi betapa jauhnya jarak antara yang fana dan yang baka. Memang kita baru bisa bergerak kalau ada jarak, tapi jarak yang diciptakan kematian dan kehidupan tak bisa dihubungkan oleh apapun. Kecuali cinta.

Mencintaimu adalah karunia terindah dari Madomik Hun[3] untukku. Menemui di bawah pohon mangga setiap kali senja turun adalah kewajiban yang kulakukan dengan merdeka. Masih nyata kuingat ketika di bawah pohon mangga yang dililitkan batang sirih, kau menanyakanku perihal sirih itu sendiri.

"Bete, tolong ambilkan aku satu daun dari pohon ini?"
"Daun yang mana, Ulu? Mangga?
"Bukan, daun sirih."
"Kenapa harus daun sirih?"

"Dulu, ketika leluhur kita turun di kampung ini dari sebuah tempat bernama keabadian, tanaman yang pertama-tama mereka tanam adalah sirih. Daun sirih mereka pakai sebagai isyarat maaf dan ampun karena kejahatan selalu ada di bumi. Dan juga untuk mengusir mual, karena di tempat kita ini waktu diciptakan dan batas antara degup hidup dan mati yang menanti itu menjadi jelas. "

"Kalau daun sirih untuk mengusir mual pada waktu hidup, apa gunanya ketika mati?"
"Kita bisa saja menyumpah orang untuk mati dengan daun sirih ini. Begitulah yang dikatakan orang-orang tua."
Ah, Sayangku. Mengingatmu adalah satu-satunya pekerjaan terberat yang harus kulakukan sambil menangis. Tapi kau perlu tahu hal ini. Pada malam itu ketika kau pulang dari kebun, Ikunlah yang mengantarmu. Ia bilang kalau sepulang kebun, kalian singgah beristirahat di rumah Manek sambil meminum tuak yang ia suguhkan pada kalian. Saat itu, kau minum terlalu banyak sehingga Ikun harus membopongmu pulang sementara iapun dalam keadaan mabuk.

Kalau saja kau sadar keesokan harinya maka itu bukan masalah. Tapi setelah kejadian itu, kau malah jatuh sakit. Seluruh tubuhmu menguning. Dari kuku kaki sampai kedua bola matamu. Penasaran akan hal itu, akupun mengunjungi Ikun. Iapun sakit tapi tubuhnya tak sampai menguning sepertimu. Ikunpun bercerita kalau sore itu hanya kalian berdua yang minum tuak. Sedangkan Manek sendiri, tak pernah menyentuh botol tuak dengan tangannya apalagi gelas dengan bibirnya.

Sakitmu tak kunjung sembuh, malah kau makin lumpuh. Tak ada ramuan yang berhasil memulihkanmu. Kau akhirnya meninggal. Tak ada alasan lain untuk mencurigai orang lain. Aku yakin Maneklah yang meracunimu. Di rumahnya.
Tak ada alasan yang lebih cocok bagi Manek, temanmu yang paling akrab untuk meracunimu selain iri hati. Kau selalu lebih dalam hal apapun darinya. Kau lebih cerdas darinya. Panenanmu lebih berhasil. Warisanmu berlimpah. Keluarga kita sejahtera. Maka menghilangkanmu dari dunia merupakan cara terbaik baginya untuk mendatangkan dukacita atas keluarga kita.

Sekarang kulihat dia di luar sana, Sayang. Ia datang untuk mengantar Lun no Klenas[4] di hari kematianmu. Tapi aku yakin, ia tak benar-benar bersedih. Jauh dalam hatinya ia bersukacita atas kematianmu. Dukacitanya adalah kegembiraan yang ia selubungi dengan air mata.

Maka, tenanglah di sini. Bagaimanapun juga, dendam tercipta untuk dibalaskan. Terlalu pedih bila kebenaran ini kusimpan sendiri. Aku akan mengganti kuning di matamu dengan membubuhkan juga kuning di matanya. Aku hanya butuh sehelai daun dari pohon mangga kita itu. Daun sirih.

                        ***

Kakakku, setiap orang yang hidup sudah cukup tua untuk dijemput maut. Maka aku tak pernah  mau menangisi kematian seorangpun di sini. Entah itu orang tua kita ataupun dirimu. Kematianmu adalah sukacita paling semarak untukku. Karena itu, aku tak ingin hadir pada pemakamanmu. Mungkin suatu saat ketika orang sudah melupakanmu sebagai pemegang harta warisan terbanyak, baru saat itulah akau akan merayakan kematianmu dengan segenap penghulu iblis.


Kakak, tahukah kau kalau istriku paling sering mengomeliku karena harta paling banyak diwariskan padamu? Tahukah kau kalau anak-anakku sering menjadi cemoohan tetangga  karena tidak bisa mempunyai peralatan seperti yang dimiliki anak-anakmu padahal kita masih keluarga? Tahukah kau kalau aku sendiri merasa diri tak berarti karena pada umurku yang setua ini masih dianggap menggantungkan hidup padamu? Maka untuk membuatmu tahu, aku harus membunuhmu.

Sebenarnya, sore itu bukanlah waktu yang pas bagiku untuk menghabisi nyawamu. Tapi kau tahu, memendam dendam itu seperti meminum sendiri racun sementara kau berharap orang lain yang mati. Dendam harus hilang. Meracunimu adalah cara terbaik untuk menghilangkan dendam. Lalu aku yakin sore itu adalah waktu yang paling tepat.

Aku tahu, Manek tak mungkin minum bersama kita sore itu. Ia diminta meminum beberapa ramuan untuk mencegah sakitnya yang menjalar. Minum tuak merupakan pantangan baginya. Dengan memintamu untuk singgah sebentar di rumahnya, aku tahu kalau ajalmu sudah mendekat. Kita duduk di pendopo, ketika Manek sedang berbicara dengan istrinya. Lalu kau bangkit berdiri dan mengeratkan  tali pada ikatan kayu bakar yang kau bawa dari kebun. Dengan pelan kutuangkan beberapa tetes racun yang selalu kubawa kemanapun juga untuk berjaga-jaga ke dalam botol tuak yang berisi tangkur buaya itu. Aku senang ketika dengan rasa haus paling purba kau menegak habis tiap gelas yang kusodorkan padamu.

Akupun turut minum, Kakakku. Tapi kenapa aku tidak mati? Betapa bodohnya aku bila memiliki racun tanpa mempunyai penawar. Tubuhku memang sakit karena meminum racun itu, tapi penawarnya membuatku bisa benar-benar sembuh. Aku senang ketika istrimu datang menjengukku yang sedang sakit di rumahku. Aku tahu dengan begitu ia tak akan mencurigaiku sebagai satu-satunya orang yang tega meracunimu. Dengan begitupula, istrimu hanya bisa menaruh kecurigaan pada satu-satunya orang yang paling karib denganmu. Manek.

Kakakku, ah masih layakkah aku memanggilmu kakak setelah semua yang kulakukan padamu?

                    ***
Sayang, tak ada yang bisa menggantikanmu. Aku belum rela kehilanganmu. Masih banyak yang tugasku yang belum selesai kutunaikan. Anak-anak kita masih membutuhkan sosok ayah, sedangkan aku belum terlalu kuat untuk memikul beban ini. Anak-anak barangkali rela untuk disebut yatim dan aku untuk dipanggil janda tapi celakalah orang yang membuat kami demikian.

Lihat, Sayang! Manek mengantarkan Lun no Klenas. Ia pikir aku tak bisa melihat iblis dibalik wajah malaikatnya. Senyumnya harus berhenti hari ini. Biar istri dan anak-anaknyapun turut merasakan penderitaan yang kita tanggung ini. Mata mesti ganti mata, bukan?

Aku telah menyuruh Berek, anak kita untuk memetik beberapa lembar daun sirih. Aku masih ingat kata-katamu dulu. Kita bisa saja menyumpah orang untuk mati dengan daun sirih ini. Akupun tahu cara melakukannya dengan baik setelah beberapa kali kudesak orang-orang tua untuk menceritakannya. Ya, aku akan melakukannya dengan baik kali ini.

                ***
Ulu, istrimu dengan setia meratapimu dari samping peti seolah-olah ialah yang paling kehilanganmu. Tidak, Ulu. Aku. Akulah yang paling kehilanganmu. Ia mengenalmu ketika kau tahu apa itu cinta, tapi aku mengenalmu ketika kita baru belajar mengeja nama mama. Sedangkan Ikun? Aku tak melihatnya di sini. Hanya istri dan anaknya. Apa yang terjadi padanya sampai-sampai tak bisa mengikuti penguburanmu? Apakah kau punya masalah dengannya?

Kini aku datang ke depanmu membawa Lun no Klenas. Ketika memasuki rumahmu, pandangan setiap orang seperti menghakimiku. Sedangkan, istrimu bahkan tak mau menatapku apalagi menjemputku dengan beberapa lembar kain yang kubawa. Aneh. Di ruangan ini udara tak hanya meniupkan aroma duka tapi juga dendam. Pasti ada yang salah di sini.

Kusodorkan bawaanku pada istrimu, tapi tiba-tiba matamu terbelalak. Langsung mengarah kepadaku. Dengan tanganmu yang dingin, kau cengkeram tanganku. Kuat sekali. Orang-orang berlari keluar. Mereka berteriak seperti kerasukan setan.

Keluargamu menangis menjadi-jadi. Hanya istrimu yang tak beranjak dari samping petimu. Kau tarik tanganku sampai-sampai tubuhku tertarik dan jatuh terjerembab ke dalam peti. Sepintas kulihat daun sirih di dalam petimu. Ini keramat. Lalu aura hidupku seperti melesap dalam tatapanmu. Mataku gelap, telingaku senyap. Dan semuanya berubah. *
Lasiana, November-Desember 2012
Keterangan (dari Bahasa Tetun):
[1] Rai Kmaus: Tanah Sukacita (Surga)
[2] Rai Balu: Tanah Seberang (Surga)
[3] Madomik Hun: Sumber Cinta Kasih
[4] Lun no klenas: Pengganti air mata
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Filsafat Agama (FFA) UNWIRA Kupang.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment