Friday, May 24, 2013

grace

Cerpen Hans Hayon

"SUDAH
lama menunggu ya?" sapa seorang gadis seraya menghampiriku. Gadis yang telah lama ingin kujumpai. Aku tak tahu apakah cinta atau hanya sekdedar rasa iba, yang menjadi alasan mengapa ia selalu kurindukan.
Warung itu kelihatan cukup ramai sehingga kedatangannya sempat memancing kerlingan beberapa orang pengunjung.

"Ah...tidak juga. Aku pun baru tiba," balasku kalap, menyembunyikan setengah jam lamanya menanti kedatangannya. Dengan sigap kupersilakan gadis itu duduk tepat di hadapanku. Di balik punggungnya, kusaksikan aneka mata lelaki mengiringi pembicaraan kami.

"Dasar tidak pernah melihat gadis cantik!" gerutuku dalam hati. Tetapi kekagetanku kembali memuncak karena para wanita muda dan tua serta anak-anak pun ikut-ikutan mempelototi gadis ini."Apakah karena wanita yang duduk di hadapanku ini merupakan tipe wanita yang mereka idealkan, atau mungkin ada alasan lain?"

Gadis itu memang cukup familiar di kalangan publik. Mulai dari para kuli bangunan, anak jalanan, pelayan supermarket, tukang ojek hingga politisi dan ilmuwan paham betul siapa sosok wanita berlesung pipit itu.

"Kamu tahu tidak, aku ini sangat terkenal. Di pasar, sekolah, gereja, masjid, jalanan, rumah sakit, dan hotel selalu terpampang namaku: Grace," katanya sambil mengangat bahu diiringi senyum yang sumringah.

Aku paham betul akan gadis ini. Ia penuh idealisme. Pernah suatu kali ia bercita-cita
menjadi seorang perawat. Katanya perwat itu sosok yang langka karena hanya merekalah yang sanggup mengerti rasa sakit sebagai sebuah rahmat.

"Emm....tidak! aku ingin menjadi seorang guru. Tetapi, bukankah guru zaman sekarang sering didiskriminasi? Atau, sepertinya aku cocok jadi seorang wartawan. Tetapi, bukankah akhir-akhir ini banyak wartawan yang dijebloskan ke penjara karena nekat buka-bukaan soal fakta?" Gadis itu menghela napas lalu menatapku lekat.
"Kal, menurut kamu aku harus menjadi seperti apa ya?" ucapnya lirih penuh harap.
"Jadilah dirimu sendiri. Itu sudah cukup"
"Maksud kamu, sekarang aku ini orang lain?"

"Bukan begitu. Kamu hanya perlu berpikir dan berdialog dengan diri sendiri. Jangan pernah berkompromi dengan siapa-siapa tentang apa-apa agar jika terjadi apa-apa, kamu tidak dipersalahkan oleh siapapun"

"Kamu tidak sedang menyindirku, bukan?" katanya sambil memperlihatkan roman yang cemberut.

"Ya Tuhan, gadis ini begitu memikat. Sebegitu bodohkah diriku sampai tak menyadarinya?" gerutuku dalam hati. Mungkin karena karakterku yang selalu tak ambil pusing soal perasaan, apalagi yang namanya jatuh cinta. Aneh, memang.

"Grace, izinkan aku untuk memahami alasan mengapa kesedihan dan kebimbangan selalu akrab di wajahmu," ucapku dengan nada pelan dan hati-hati.

"Bukankah setiap kita berhak bahkan ditakdirkan untuk bersedih?"
"Bukan itu maksudku. Kesedihanmu itu disebabkan oleh manusia yang tak kenal moral." Aku begitu kaget ketika menyadari jika nada bicaraku semakin tinggi. Lalu, kami terdiam. Suasana warung yang tadinya ramai, menjadi hening. Bungkam.
"Bolehkah aku tahu, siapa pelaku pemerkosaan yang mengharuskan kamu mengandung bayi ini, Grace?" tanyaku penuh rasa iba sambil mengelus pundak tangannya.

"Tidak...Ikal! Biarkan itu terjepit sebagai masa laluku, sepahit apapun itu. Aku tahu ruang dan waktu kadang bertengkar, memperebutkan sesuatu yang tidak pernah sanggup dipahami oleh manusia. Kadang, sikap pasrah itu begitu mulia, bukan?"
Ada pecahan bening di bola matanya ketika pertanyaan itu terlontar tanpa kompromi. Tak bisa kubayangkan seperti apa kesedihan itu. Yang kumengerti adalah sisa pundak dan bayangannya yang mulai menghilang di hadapanku. Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
                                                     ***
Hari masih terlalu pagi. Terlampau pagi untuk takut. Terlampau pagi untuk berdoa. Terlampau pagi untuk berharap. Terlampau pagi menjadi manusia. Yah,,,,pagi ini segala sesuatu dianggap terlampau, sulit diterima sebagai kenyataan.
Warga mendadak dikagetkan oleh berita pada Headline koran lokal. "Lastri (bukan nama sebenarnya) mati dibunuh oleh seorang pejabat lokal. Diduga pelaku menikam korbannya mengunakan sebuah pisau. Dari hasil verifikasi diduga bahwa pembunuhan itu bersifat berencana dan sistematis. Pelaku sedang menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian".

Kuremas koran itu dengan perasaan hancur. Aku sedih bukan karena kematiannya, gadis pemilik ribuan idealisme itu. Alasan kesedihanku kali ini yakni kini manusia hidup dituntun oleh moral yang mati. Keyakinanku semakin memuncak ketika menyadari bahwa pejabat itu hanya sekedar berkunjung ke kantor polisi. Bagaimana tidak? Zaman ini, institusi pengadilan dan penjara tak lain hanya sekedar tempat rekreasi.(*)

* Hans Hayon, peminat sastra, mahasiswa STFK Ledalero. Sekarang menetap di unit Rafael Seminari Tinggi Ledalero-Maumere.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment