Friday, May 24, 2013

surga terpendam

Cerpen Maria Soi Sinas

NADYA
, si Manja masih tak mau mengikuti live in yang diadakan pihak sekolah yang berlangsung selama seminggu sebelum akhirnya mau juga setelah diancam oleh ayahnya dengan ancaman pemblokiran kartu kreditnya. Bagi Nadya, live in sama saja dengan tinggal di "neraka" karena harus hidup bersama keluarga miskin, tanpa pembantu dan tanpa uang saku. Nadya telah membayangkan tinggal di neraka sebelumnya tiba di tempat tujuannya, karena meninggalkan rumah dengan segala kemewahannya bak hukuman mati untuknya.

Awal hari-hari Nadya sebagai anggota baru di keluarga Pak Paul membuat Nadya benar-benar menghayati dan merasakan benar seperti apa hidup di neraka. Kamar yang sempit, tempat tidur tanpa kasur empuk dan kelambu ditambah lagi ia harus berdesakan dengan Nia, putri tunggal Pak Paul.

Makanan yang sungguh ala kadarnya bagi Nadya membuatnya sangat tersiksa, hingga pernah keceplosan barkata, "Kalau tinggal selama sebulan di sini, aku bisa-bisa mati kelaparan!" demikian celoteh Nadya yang hanya bisa dibalas dengan senyuman  oleh Pak Paul dan keluarganya.

Semua sikap angkuh Nadya berubah setelah Nadya yang setiap hari memilih untuk tinggal di rumah saja, memutuskan untuk ikut ke sawah. Ia sudah bosan dengan suasana rumah yang tanpa hiburan apa pun. Tanpa TV, koran, majalah, tabloid apalagi komik kesukaannya. Yang ada hanyalah tape recorder yang sudah lama tidak bisa digunakan karena kehabisan baterai.

Tentu saja keputusannya itu membuat Pak Paul, istri beserta anaknya sontak terkejut dan tidak membiarkan sang tamu agung untuk ikut. Mereka mengira Nadya sedang sakit dan malah menyuruhnya untuk beristirahat di rumah. Nadya tetap memaksa dan akhirnya diperbolehkan untuk ikut.

Selesai mempersiapkan peralatan dan bekal, mereka semua bergegas ke sawah. Perjalanan menuju ke sawah tidak segampang yang dibayangkan Nadya. Selama ini dia membayangkan kalau Pak Paul, istri, dan anaknya pergi ke sawah yang jaraknya ± 5 km dari rumah itu dengan menggunakan alat transportasi. Ternyata tidak. Alat transportasi yang digunakan adalah kaki mereka sendiri karena tidak ada anggaran khusus untuk hal semacam itu.

Nadya yang tiap harinya, jika ingin pergi ke tempat yang jaraknya tidak sampai 1 km saja, minta diantar dengan mobil menjadi sangat kelelahan dan paling sering menggerutu dan banyak mencari alasan untuk beristirahat. Namun demikian, Nadya masih saja dan berjalan paling akhir. Pak Paul dan keluarganya yang mengerti betul keadaan Nadya tetap saja setia dan sabar menunggu Nadya dan menemaninya berjalan.

Mentari telah terik ketika Nadya beserta rombongannya tiba di sawah. Tanpa buang-buang waktu, Pak Paul, istrinya beserta Nia segera mulai bekerja mencabut anakan padi yang nantinya akan ditanam ulang. Sementara Nadya tengah terperangah melihat keindahan alam yang masih bersih dan asli. Ia memilih untuk beristirahat di bawah sebuah pohon dekat pematang sambil menjaga dua buah rantang bekal makanan dan minuman mereka. Pilihan pekerjaan yang paling gampang.

Nadya tidak pernah menyangka kalau di zaman sekarang, masih ada lingkungan yang tetap bersih, alami, dan indah. Tanpa polusi. Tidak seperti di kota tempat tinggalnya dimana alam telah dirusak oleh tangan terampil manusia. Limbah pabrik, sampah rumah tangga yang tidak bisa didaur ulang, asap kendaraan bermotor, penebangan liar dan pembangunan gedung di mana-mana mengakibatkan tidak ada lagi tanaman yang dapat tumbuh subur kecuali dengan bahan kimia yang juga tidak ramah lingkungan.
Karena kekagumannya terhadap keindahan alam ciptaan yang ada di hadapannya, membuat Nadya menyesali segala tindakannya yang telah banyak merusak alam. Salah satunya adalah meminta orang tuanya merombak taman belakang rumah menjadi kolam renang pribadi karena ia telah bosan dengan kolam di samping rumahnya.

Setelah puas memandangi keindahan alam itu, Nadya ingin merasakan bagaimana rasanya bekerja di antara indahnya alam. Ia ingin membantu pekerjaan pak Paul dan yang lainnya. "Walau harus berkotor-kotoran, setidaknya saya memperoleh pengalaman baru dan sekali seumur hidup," pikir Nadya. Namun saking semangatnya, Nadya tak sengaja menyenggol salah satu rantang bekal makanan hingga rantang tersebut terguling dan jatuh kedalam sawah yang berlumpur. Semua makanan berupa nasi, sayur dan lauk untuk mereka berempat yang ada di dalam rantang tersebut berhamburan di petak sawah yang baru selesai di bajak. Berlumuran lumpur.

Semuanya terjadi begitu cepat sehingga Nadya tak sempat berbuat apa-apa, kecuali memandang makanan yang telah menyatu dengan lumpur itu dengan penuh sesal dan disusul permohonan maaf pada Pak Paul dan keluarganya yang juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Rasa penyesalan Nadya kian bertambah tatkala ia meminta maaf kepada Pak Paul dan keluarganya. Namun Pak Paul berkata kalau tidak ada kejadian yang luar biasa, jadi tidak perlu minta maaf karena kejadian itu hanyalah kecelakaan kecil dan untungnya hanya makanan yang jatuh, bukan Nadya.

Kata-kata yang yang kemudian dibenarkan oleh istri dan anaknya dengan anggukan dan senyum lebar membuat Nadya sangat menyesal dan bertanya dalam hatinya, "Apakah hati mereka terbuat dari emas murni? Meskipun aku telah banyak menyusahkan, tetapi mereka tidak pernah memarahiku, mereka sangat sabar". Padahal Nadya bisa melihat kekecewaan di mata mereka karena jatah makan untuk siang ini telah raib dan yang tersisa hanyalah satu rantang berisi lima tongkol jagung rebus sisa sarapan pagi tadi dan sebotol air minum yang untungnya selamat dari kecelakaan tadi.

Mentari tepat berada di atas kepala, ini waktunya makan siang bagi para petani, termasuk Pak Paul, istrinya, Nia, dan Nadya yang ikut membantu. Segera mereka menghentikan pekerjaan mereka dan bergegas menuju tempat makanan berada. Makan siang bersama diawali dengan ucapan syukur melalui doa yang dipimpin oleh Nia yang membuat Nadya bingung.

"Kenapa harus bersyukur untuk sesuatu yang tidak begitu istimewa? Haruskah bersyukur untuk lima tongkol jagung?" pikir Nadya tak percaya.

"Pak, mengapa kita harus mengucap syukur hanya untuk lima tongkol jagung?" tanya Nadya pada Pak Paul di sela-sela makan. Meski kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan padanya, Pak Paul tetap tersenyum sambil menjelaskan pada Nadya bahwa mensyukuri apa yang ada dan yang kita miliki itu perlu, karena beruntung masih memiliki makanan. Masih banyak orang yang sampai saat ini belum makan karena tidak  memiliki makanan. Bersyukur tidak hanya untuk makanan tetapi untuk apa saja yang kita dapatkan.

Nadya sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sungguh tak percaya. Padahal di rumahnya, Nadya tak pernah berdoa, apalagi bersyukur dengan apa yang telah ia miliki. Ia justru selalu merasa kurang dan selalu menuntut. Baginya, ucapan syukur hanya pantas diucapkan di saat-saat bahagia dan mendapat sesuatu yang istimewa. Itu pun kalau ingat! Mendengar kata-kata Pak Paul membuat Nadya yang sejak awak masih enggan makan, kini menjadi lahap menghabiskan sisa jagung miliknya. Ia tak mau lagi membuang-buang makanan seperti yang biasa ia lakukan di rumahnya, apalagi setelah ia merasakan sendiri betapa sulitnya mencari makan. Tidak semudah menggesek kartu kredit pada mesin ATM dan menghabiskan uang untuk berbelanja di mall. Padahal banyak orang yang tidak mendapat makan.

Di rumahnya Nadya selalu bingung dengan apa yang hendak ia makan karena semuanya telah tersedia, sedang orang lain pada saat yang sama justru langsung dengan apa yang hendak mereka makan karena tidak ada pilihan lain.
Pengalamannya hari itu sungguh telah mengubah cara hidup Nadya. Sisa waktu live in-nya ia gunakan dengan sebaik mungkin.

Nadya merasa seperti tinggal di dunia yang beda. Dunia yang indah dan penuh kedamaian. Tempat yang disangkanya neraka, ternyata adalah surga yang terpendam. Karena itu, ia berjanji akan membuat surganya sendiri di rumahnya. Ia tak ingin lagi merusak alam. Tak akan nada lagi Nadya yang manja dan selalu menuntut tanpa rasa puas. Justru ia akan berusaha untuk menjadi dewasa dan mandiri, dan yang terpenting adalah belajar untuk selalu bersyukur.

Live in sungguh telah mengubah hidupnya sehingga tak heran, jika sehabis kegiatan itu, banyak yang mempersoalkan masalah ini. Mulai dari orang terdekat sampai  yang terjauh. Tua-muda, kawan-kawan pun tidak ketinggalan, apalagi peri-peri gosip di sekitar rumahnya. Nadya telah menemukan surga yang sesungguhnya di dunia.
Terima kasih Tuhan atas cinta-Mu untukku. Terima kasih untuk segalanya. Aku takkan lagi menyia-nyiakan cinta-Mu. Terima kasih live in. Demikian tulis Nadya dalam buku hariannya. *

* Lili, 14 Februari 2012.
* Cerpenis adalah mahasiswi Akbid Poltekes


-----------------------------------------------------------------------------
Dalam BoxPengiriman puisi dan cerpen untuk dimuat pada halaman Imajinasi Pos Kupang melalui alamat  email ini: imajinasiruang@ymail.com
------------------------------------------------------------------------------

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment