Friday, May 24, 2013

Universitas Diam

Cerpen Hans Hayon

"Kawan-kawan pecinta kritik yang budiman. Bersama selebaran ini, saya mengajak semua kita yang menyandang status sebagai cendekiawan muda untuk selalu menganggap keharmonisan sebagai sebuah kecelakaan terbesar. Hal-hal teknis dan kualitatif lainnya akan dibahas di kantor pkl. 08. 00 WITA". Salam, Kurniawan.

KULIPAT selebaran itu dengan tangan gemetar. Memang, tubuhku gemetar hebat, tetapi bukan karena takut melainkan semangat yang menggelora dalam batinku. Sebagai seorang mahasiswa, aku selalu demikian: bergetar seluruh tubuhku apabila menyaksikan aneka ketidakadilan berkecamuk di sekelilingku. Tapi jangan salah sangka, aku tidak hanya sebatas merasa gemetar melainkan mengajak kawan-kawan sekampus secara bersama mmerasa gemetar.

Tidak heran jika perkumpulan itu kami namakan GEMETAR (Gerakan Mahasiswa Evolusioner PenenTang TotAliteRianisme). Terkadang terlintas di pikiranku, betapa bombastisnya slogan itu, apalagi di era postmodernisme sekarang. Tetapi tidakah kalian tahu, dengan semakin majunya negara ini, rezim totaliter kian pandai menyembunyikan kuku dan taringnya? Wah...rupanya aku kelewatan yah...Indonesia kan negara pluralis, multikulturalis, dan masih banyak -is lainnya. Jadi tidak mungkin semangat kuno itu masih cukup subur.

"Andri...sudah waktunya untuk berangkat." Terdengar ketukan pada pintu disusul teriakan seorang kawan yang membuat kepalaku nyaris membentur dinding kamar karena kaget. Kutatap sekali lagi wajahku yang mulai tersenyum di balik cermin sambil melangkah ke luar.

                    ******
Siang yang terik. Kutatap gedung sekolah dengan tatapan sedih. Sejenak kami berpandangan dalam diam. Yah...hanya diam. Itulah motto yang selalu menarik di zaman ini. Kita hanya butuh diam. Bila ada korupsi, kami diam. Ketika ada ketidakadilan, kami diajarkan bagaimana cara terbaik dari diam. Kata salah seorang dosen kalau diam itu emas. Diam itu berkah. Diam itu berharap. Diam itu sebuah doa. Jika tidak ingin diskors dari sekolah, bahkan masuk sel, perlu diam. Bahkan filsuf dan matematikawan Ludwig Wittgenstein pernah bilang, "Untuk hal yang tak terkatakan, orang mesti diam." Sampai pada titik ini, aku bingung. Mana yang paling penting: diam atau berdiam diri?

"Kamu belum pulang, nak" sapa seorang dosen. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tidak menjadi kalimat tanya. Dan, ia sepertinya tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya menatapku tanpa selidik. Aku tak pernah berpikir kalau kali ini mimpiku menjadi kenyataan: beradu pandang dengan seorang dosen. Bagaimana tidak, kesempatan seperti itu jarang dijumpai dalam ruang kuliah. Hampir semua dosen kelihatan sibuk dengan materi yang dipresentasikannya tanpa peduli jika ada mahasiswa/i yang tertidur, ribut, bersmsan ria, ngetweet, facebookan, dan berbagai aktivitas nonakademis lainnya. Tidak ada relasi yang sungguh dalam di antara kami. Mungkin itulah tuntutan kurikulum terbaru bangsa ini, membiarkan peserta didik sibuk dengan kreativitasnya masing-masing.

"Ibu sendiri, belum pulang?" balasku cepat setelah menyadari kalau sejak tadi dosen itu menatapku.

"Belum..Oh ya...kalau tidak salah nama kamu Djarot kan?"
Rupanya pertanyaan ini cukup serius. Terbaca dengan jelas di wajahnya, harapan semoga aku bukanlah orang yang ia maksud.

"Betul, Bu,,,aku Djarot" sambungku dengan nada cemas.

"Besok, bertemu saya di kantor ya" ujarnya dengan nada berat sambil melangkah meninggalkanku yang kebingungan.
Kucoba memutar otak, membayangkan aneka perbuatan yang mungkin saja menjerumuskanku dalam sebuah kesalahan. Sayangnya, tidak kutemukan.

"Jangan-jangan...Ahh,,, tidak mungkin!!" hatiku bertengkar hebat. Entahlah, dengan siapa diriku sedang berdebat saat ini. Dengan diriku sendiri? Mungkin.
Akhir-akhir ini, dosen di kampus selalu begitu. Melemparkan sebuah pertanyaan tanpa menyediakan kemungkinan bagi kami untuk mencari jawabannya. Tapi kalian jangan salah sangka, mungkin dengan begitu mereka sedang menumbuhkan kreativitas dalam diri mahasiswanya. Bukti yang paling jelas adalah sebagian besar dari kami menjadi tumpul dalam sikap kritis, mandul bersikap, dan akhirnya hanya diam. Luar biasa, bukan?
                    ***
Rombak sistem administrasi universitas ini! Ekspersi jiwa adalah yang utama. Mahasiswa punya idealismenya sendiri! Kami bukan sepasang merpati yang penurut! Kembalikan suara kami yang dipasung!"

Dan perang pun pecah. Jika dahulu senjata merupakan sarana terampuh menggasak musuh. Kali ini, harapan kami terletak pada kata-kata.

"Bangun kembali universitas ini dalam tiga hari, dan akan kami hancurkan dengan kata dalam detik." Suara orator terdengar nyaring membahana. Meruntuhkan tembok yang sedari dulu bungkam. Meluruhkan kaca jendela berkeping-keping. Pagar kawat yang anggun terlihat bergetar hebat. Lima menit berselang, suasana menjadi kacau. Dan demonstrasi pun mendadak usai setelah sebuah truk polisi mencium aroma tempat itu. Dan di ujung kampus yang luas, berdiri seorang mahasiswi sambil menangis. Apa yang ia tangisi? Entahlah.

"Djarot..." teriak seorang wanita dari kejauhan. Tak bisa kutangkap jelas wajah wanita itu selain sebuah sinar yang tajam. Dari matanya yang selalu akrab di hatiku, kesadaran memastikanku jika dosen wanita itu memang benar. Tak pernah setitik jejak langkahku luput dari pandangannya. Ia tahu baik bagaimana watak dan eksperi diriku yang sebenarnya. Mungkin satu-satunya hal yang tidak pernah ia tahu adalah bahwa dalam setiap mimpiku selalu ada dirinya.

Mobil melaju dengan kencang menyisahkan keanggunan sekolah yang berdiri dengan megahnya. Kami pun saling menatap sekali lagi. Sungguh, ia sedang tersenyum. Tak pernah bisa kutafsir apa makna senyumnya. Apakah karena senyum adalah sebuah jarak terpendek antara dua pribadi, ataukah senyum adalah sebuah ketulusan pengkhianatan?

Belum kupastikan apa jawaban yang benar. Hanya deru mesin mobil polisi yang terdengar mengetuk gendang telinga. Mengikis hatiku yang mulai beranjak pergi dari logika. *


* Peminat sastra, tinggal di unit Rafael-Maumere


Pemberitahuan:

Pengiriman puisi dan cerpen untuk dimuat pada halaman Imajinasi Pos Kupang melalui alamat  email ini: imajinasiruang@ymail.com

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment