Friday, May 24, 2013

9 frakmen sebelum kamu lahir

Cerpen Nong Djese

DI DEPANMU duduk seorang berkata mata tebal. Dengan suara yang lembut ia membacakan sembilan cerita ini kepadamu. Aku lihat kamu mendengarnya dengan penuh saksama.
                    ***
SATU
Ibumu mulai sering merasa tidak enak badan. Kepalanya sering kali pening tetapi tidak terlalu terasa pening. Suhu tubuh ibumu juga kadang mendadak naik memanas, tetapi juga tidak terlalu panas. Kemudian mereda. Acap kali ia hanya ingin tidur-tiduran, berlama-lama di tempat tidur. Hanya berbaring.

"Mungkin kamu hanya kurang istihat sayang. Akhir-akhir ini kamu `kan sering lembur kerja."

"Mungkin juga Pa, aku kebanyakan kerja, jadi kurang tidur."
"Nah. kalau kerjaan kamu lagi banyak, kamu harus minum vitamin, terus minta izin dulu beberapa hari untuk beristirahat, jika kerjaannya sudah selesai sayang."

"Ia papa sayang."
Sorenya setelah selesai kerja, ibumu bertemu ayahmu. Mereka mampir sebentar di apotek untuk membeli vitamin. Lalu mereka singgah lagi sebentar di warung. Senja itu entah mengapa, ibumu ingin sekali makan nasi goreng. Setelah itu mereka berpisah.

DUA
Mereka baru saja selesai. Ibumu mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian ia membenarkan sisiran rambutnya dan kembali berdandan sebentar. Seperti yang sudah-sudah, ia selalu meninggalkan ayahmu di atas ranjang. Ranjang yang koyak.

"Aku harus kembali ke kantor, banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan."
Ayahmu masih berbaring di sisi tempat tidur. Telanjang dan setengah sadar. Ia mungkin tidak mendengar dengan jelas suara ibumu.
"Oia, aku hampir lupa, jangan jemput aku sore ini."

"Hmmmm..."
Ayahmu hanya berguman sebentar lalu kembali tidur. Ibumu segera kembali ke kantor. Sorenya ia pulang sendiri, sebelum ke rumah ia singgah lagi di apotek di dekat kantornya. Ia membeli sebuah alat test kehamilan.


TIGA
Ibumu mulai mengerti gelaja itu. Ini bukan pengalaman pertamanya. Inilah hari-hari pertama saat ibumu mulai menyadari pertumbuhanmu dalam rahimnya. Itulah mengapa ia hanya diam ketika ditegur atasannya karena sering kehilangan konsentrasi kerja. Ibumu sering mengantuk dan juga kurang semangat dalam berkerja. Sejumlah tugas yang harus ia kerjakan tidak terselesaikan. Bahkan beberapa malah terbengkalai. Setelah beberapa kali ditegur, siang itu ibumu dipanggil oleh atasannya ke ruangannya.

"Akhir-akhir ini aku perhatikan, kinerja kamu menurun, aku jadi sedikit cemas dengan keadaan kamu. Mungkin ada baiknya kamu periksa keadaanmu ke dokter. Siapa tahu kinerjamu yang menurun itu ada hubungannya dengan kesehatanmu."

"Ah. Tapi Pak, aku rasa, aku baik-baik saja Pak."
"Ya, aku hanya menyarankan saja tidak ada salahnya toh, kamu periksa kesehatanmu, jangan sampai kesehatanmu sedang bermasalah. Sebab Mitra kerja kita terus saja mengeluhkan lambannya kerjamu. Kalau memang kesehatanmu sedang bermasalah, aku bisa menunjuk orang lain menggantikanmu untuk sementara waktu sampai kamu sembuh betul."

"Ia Pak, mungkin aku memang harus ke dokter. Tapi Pak, aku yakin bisa menyelesaikan semua kerjaanku Pak. Mungkin akhir-akhir ini aku hanya kurang istirahat karena ada beberapa persoalan di rumah."

"O...begitu, jika itu masalahnya, aku bisa mengerti, kamu punya banyak kesibukan di rumah, tetapi kamu harus ingat, pekerjaan kamu di perusahaan ini juga menuntut perhatian dan tanggung jawab yang penuh. Kami pasti paham maksudku."
"Ia Pak, aku mengerti."

"Ya.., kamu juga punya tugas dan kesibukan di rumah, tetapi kamu juga punya tugas dan tanggung jawab di perusahaan ini `kan. Nah, kamu harus bijak untuk memilah waktu dan tenaga. Kamu harus ingat, dua-duanya sama penting. Atau kalau memang kamu ingin berkonsentrasi dulu dengan keluargamu, aku bisa memberi kamu cuti untuk beberapa hari."

Setelah bertemu atasannya, ibumu beberapa kali bolak-balik ke toilet. Ia muntah-muntah di sana.

EMPAT
Ia mulai yakin dengan dugaannya. Dulu ketika sedang hamil anak pertama mereka, ibumu juga sering merasa pusing dan tidak enak badan. Walaupun begitu ia tidak langsung bertanya kepada ibumu. Ia masih ragu dengan keberadaanmu.
"Sayang?"
"Ia papa, kenapa Pa?"

"Kamu sudah minum vitamin yang hari kamu beli `kan sayang?"
"Sudah papa, memangnya kenapa sayang?"

"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan dirimu sayang. Maksudku, mungkin kamu hamil, sayang.. Waktu kamu hamil adek, awal-awal kehamilan, kamu mengalami gejala seperti ini."

"Mungkin ia papa, aku hamil. Ya sudah, nanti aku sempatkan diri ke apotek, mungkin juga aku hamil papa. Biar aku beli alat test kehamilan ya sayang."
Pagi harinya, ia menemukan bungkusan alat test kehamilan yang dibeli ibumu senja itu di apotek dekat kantornya.

LIMA
Perut ibumu mulai besar kini. Sudah lima bulan usiamu dan lima bulan pula kamu berada di dalam kandungannya. Di kantornya, ia dipindahkan ke divisi yang tidak terlalu banyak kerjaan. Atasan kantor ibumu bisa mengerti keadaannya. Sedangkan ayahmu, ia tidak bisa lagi menjemput ibumu sepulang kantor seperti biasanya. Mereka hanya bisa bertemu di siang hari, kala ibumu sedang istirahat siang.
"Bagaimana keadaan kandunganmu?"

"Baik-baik saja, anak kita sehat, aku selalu rutin ke dokter kandungan, jadi kamu tidak perlu cemas, dia baik-baik saja kok."
"........."
Ayahmu tercengang demi alasan yang hanya ia pahami. Mereka kembali melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. Kini masing-masing mereka tenggelam dalam lamunan yang panjang. Hening. Ayahmu mengelus-elus perut ibumu. Ia juga ingin merasakan kehadiranmu. Lalu kamu mulai menendang-nendang tangannya. Ayahmu begitu suka. Tetapi hatinya luka. Tak ada yang tahu.


ENAM
Ia mafhum, ibumu sebenarnya juga menyimpan sesuatu darinya dalam diam. Ia tahu itu. Tetapi terus dipendamnya. Rasa itu terus saja ditabungnya setiap kali ibumu berada di rumah.
"Ma, kamu baik-baik saja `kan sayang?"
"Ia Pa aku baik-baik saja papa."
"Aku perhatikan, kamu kelihatannya suka berdiam diri, malah sering melamun sendiri, kamu yakin kamu baik-baik saja, sayang?

"Ia papa, mungkin hanya bawaan anak kita sayang."
"Oia Pa, lusa 'kan jadwal perikasa kadunganku, aku berencana sehabis kerja aku langsung ke dokter Pa, kebetulan aku ada sedikit kerjaan hingga sore nanti. Boleh ya Pa?"

"Ya tapi pulangnya aku jemput ya sayang. Sayang, sekalipun kerjaanmu banyak, jangan lupa jaga kesehatan ya."
"Pasti papa."

Sore itu ibumu ke dokter kandungan untuk memeriksa keadaan kamu di dalam kandungannya. Ia ditemani ayahmu.

TUJUH
Sepulang kerja ia menjemput ibumu. Namun sebelum kembali ke rumah, mereka masih berkunjung ke suatu tempat penjualan perlengkapan bayi. Mereka berlama-lama di sana dan membeli banyak sekali kebutuhanmu. Semua perlengkapanmu berwarna merah hati, karena mereka tahu dari hasil pemeriksaan dokter kamu berjenis kelamin perempuan. Mereka tersenyum riang gembira. Tak terasa kamu akan segera lahir. Sepertinya mereka tak sabar lagi menunggu kelahiran kamu.

"Kalau baju ini cocok tidak Ma?"
"Ia cocok Pa, bagus papa."
"Sayang, apa kita harus membeli lagi Box Baby?"
"Papa..punya adek yang dulu masih juga bagus, kita pakai punya adek saja."
Saat hendak keluar dari tempat itu, ibumu melihat ayahmu di seberang jalan. Matanya sayu.


DELAPAN
Ibumu dijemput ayahmu selepas kerja sore itu. Ia tak punya pilihan lain karena ayahmu memaksannya. Ia bersikeras ingin menemui ibumu. Mungkin karena sudah beberapa minggu ini mereka tidak lagi bisa bertemu seperti biasanya. Ibumu memang sudah jarang makan siang bersama ayahmu. Sejak mereka bertemu malam itu di depan tempat penjualan perlengkapan bayi, ibumu tak lagi ke rumah ayahmu.

"Kamu terlalu nekad."
"Aku tak peduli lagi, aku tak ingin lagi keadaan kita seperti ini terus. Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini."
"Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin dia tahu."
"..........."

Ayahmu terdiam. Diamnya begitu panjang bahkan hingga mereka selesai makan. Ayahmu ingat malam itu, di tempat inilah mereka pertama kali bertemu setahun yang lalu. Dan ketika ia harus mengantar ibumu pulang, serupa malam itu dan malam-malam lainnya, ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bahkan untuk mengecup kening ibumu pun ia tidak bisa. Ia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Ayahmu melepas ibumu di seberang jalan. Sementara di tepi jendela malam itu, ia hanya melihat ibu dan ayahmu. Setiap malam ketika ibumu pulang terlambat setelah lembur di kantornya, ia ada di jendela rumah mereka. Rumah ia dan ibumu. Dari jendela itu ia membuang alat test kehamilan ibumu ke gelap malam.

SEMBILAN
Tidak terasa sudah sembilan bulan kamu ada di dalam perut ibumu. Hari itu hari kelahiranmu. Beberapa menit sebelumnya, tangismu baru saja pecah di sebuah rumah sakit bersalin. Kamu terus merengek ingin kembali ke dalam rahim ibumu. Sementara ibumu masih tak sadarkan diri.

Tak ada yang melihat ayahmu. Tadi ia memang ada di sana. Namun ia buru-buru pergi setelah meninggalkan sebuah topi bergambar kelinci kecil di samping tempat tidurmu. Topi mungil yang ia beli di tempat perlengkapan bayi, malam itu, tiga bulan yang lalu. Ia pergi tanpa pernah menoleh. Itu terakhir kali ayahmu melihat kamu.

Karena saat malam sudah jatuh di kota itu, diam-diam seseorang mengendap-endap ke samping tempat tidurmu. Ketika semuanya terlelap, buru-buru ia menggendong dan menjejal mulutmu. Tak ada yang tahu ketika ia membawamu pergi. Kamu dibuangnya di antara tumpukan sampah di pinggir kali.

Pagi itu setelah ibumu mulai berangsur pulih, ia hanya menangis setelah tahu semuanya telah tiada. Suaminya telah membawa kamu pergi. Sedangkan ayahmu sudah pergi entah ke mana.

Seminggu setelah itu mereka membawa ibumu ke ruangan kejiwaan karena mulai saat itu ibumu terus saja tertawa dengan suara yang keras. Ia juga sering menangis, meraung-raung memanggil nama ayahmu dan juga nama suaminya. Ketika tengah malam ada yang sering mendengar ia banyak meracau sambil memeluk topi mungil pemberian ayahmu itu.
                    ***
Seorang tadi berhenti bercerita. Ia membetulkan letak kaca matanya, lalu bangkit berdiri dan menggandeng tanganmu. Bunyi kelepak sayap kalian terdengar. Aku terpesona melihat kalian membumbung tinggi ke angkasa. *


Malam, 10 Febuari 2013
Untuk Giovanni Alfadio Djese Pu'an dan Ibunya  

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment