Friday, May 24, 2013

Selembar Kisah Bersama Laut

Cerpen Arie Putra

AKU
sengaja menjauh dari rombongan perjalanan kami. Menuju ke arah timur pantai ini, aku berjalan sambil menyaksikan permainan ombak yang memecah bebatuan pantai.

Ketika berjarak sekitar tiga kilo meter dari tempat teman-teman serombongan berkumpul, aku membenamkan diriku pada naungan sebuah batu besar. Lalu sesegera mungkin aku mengeluarkan isi tas rangsel yang kubawa. Pelan-pelan kegeser keluar sebuah novel berjudul An Indicent Obsession tulisan Collen McCullough, sebuah elektronik translator, pulpen dan botol air.

Aku ingin membuat sebuah catatan yang sangat berbeda dari catatan harian yang pernah kutulis. Aku sungguh merasa bebas untuk menulis apa saja di tempat ini. Aku juga bebas untuk melakukan apa saja. Aku bahkan sengaja berbicara sendiri di tempat ini. Memang ini sedikit gila, namun sangat mengasyikkan. Aku berniat untuk memberikan kesempatam kepada mulutku untuk berbicara dan hanya didengarkan oleh telingaku sendiri.

Aku mendapatkan inspirasi dari film The Life of Pi untuk menuliskan catatan ini. Pemuda setengah baya yang menjadi pemeran utama dari film ini menuliskan catatan hariannya di atas sebuah perahu kecil di tengah samudera. Dan catatan itu begitu berharga bagi hidupnya. Catatan itu pula yang kemudian dijadikan sebagai bukti pengalamannya di tengah lautan bersama si harimau yang pada akhirnya menjadi sahabatnya.

Dari balik naungan batu ini, aku sungguh menyadari bahwa dunia ini begitu luas. Begitu unik. Bagiku, lautan adalah sebuah ide yang tak pernah tuntas untuk ditulis dalam karya-karya besar dan tak pernah habis dipikirkan. Ada hal-hal yang tak selesai dalam pembicaraan tentang laut. Rahasia besar terus membentang hingga ke ujung cakrawala di sana. Siapapun tak pernah mampu menangkap maksud misteri lautan ini.
Aku ingin memotret semua yang ada di sini.

Percikan air laut yang kadang melompat di atas bebatuan lalu ikut menyusup di atas kertas catatan ini. Aku tertegun menyaksikan permainan air ini. Ia menggulung dari tengah lautan lalu seketika ia menampar bebatuan pantai lalu terhuyung-huyung kembali ke tengah laut. Ada gelora yang tak terlukis di sana. Entah apakah itu.  Ini merupakan situasi yang berbeda bagiku. Suatu situasi yang sangat berbeda di ruang kuliah, di emperan pertokoan pusat kota dan di gedung-gedung bertingkat. Apalagi di ruang para wakil rakyat. Situasi ini hanya terdengar dari dalam rekaman pita mati dan diputar kembali saat meditasi pada padri di biara-biara sunyi.

Di sini, situasi ini begitu alami. Deru lautan tercebur dengan kekuatan bebunyi yang asli. Deru ini tidak diatur oleh angka volume speaker. Forte dan mezzoforte-nya diatur oleh kekuatannya sendiri. Air ini berlomba-lomba melemparkan dirinya ke tepi pantai. Kadang dalam hati aku bertanya, siapa yang mengutus air laut ini sehingga datang menampar dan memandikan bebatuan di tepian ini ?

Aku merasa sangat istimewa di tempat indah ini. Hanya akulah mahkluk manusia yang ada di pantai lengang ini. Aku ingin sekedar bercakap-cakap dengan batu besar yang tegak di balik punggungku. Ia sangat setia memberikan naungan untukku. Aku berterima kasih kepada laut sebab airnya yang bening dapat kurengkuh dalam jemariku dan kumainkan. Laut setia menyayikan lagunya yang indah. Aku berterima kasih kepada angin. Desirannya yang lembut, segar dan menentramkan membuat aku bermakna.

Walau tanpa kamera digital untuk memotret tempat ini, aku setia berjibaku dengan catatan ini. Aku lebih suka mengabadikan moment indah di tempat ini dalam tulisan. Aku mengeja detail-detail keindahan yang menghampar di seluruh bagian pantai ini. Aku ingin menjadi wartawan.

Wartawan yang ingin mewartakan keindahan di seantero tempat ini. Orang banyak boleh  saja mengatakan Bali, Jakarta, Raja Ampat atau Labuan Bajo itu indah, namun bagiku keindahan tempat-tempat itu tak dapat dibandingkan dengan tempat ini. Di sini tidak terdengar kebisingan. Tidak ada tenda-tenda untuk aktivitas bisnis, tidak ada rongrongan kapitalisme, tidak ada wisatawan telanjang yang menerbitkan birahi.

Di sini engkau akan mendengar decak-decik lautan, engkau akan tahu apa artinya hidup dan engkau akan tahu apa makna laut itu. Engkau akan tahu keasrian alam ini. Selama ini, engkau mungkin hanya menatap keindahan alam dalam tabung kaca televisi atau di ruang tamu para pejabat malas.

Sekarang gulungan ombak kian menari ria. Ia tenang merayu. Aku menjulurkan ujung kakiku di ujung gulungan itu. Aku merasa dipeluk. Lautan ini begitu mesra. Aku semakin betah dengan kesendirian ini. Aku ingin bercinta dengan air laut ini sepanjang hari. Sejenak aku mengarahkan pandanganku ke arah rombongan yang berada jauh dariku. Rupa mereka begitu kecil. Mereka sangat jauh dariku. Mereka belum beranjak.

Aku kembali menyusupkan tubuhku di dalam naungan batu untuk melanjutkan catatanku. Pantai ini terletak di Kampung Mondo, Ende Lio. Tempat ini jarang dikunjungi oleh orang-orang luar. Mungkin hanya aku dan teman-temanku dalam rombongan saja sebagai orang luar yang menginjakkan kakinya di tempat ini. Pantai ini begitu perawan, indah dan menawan. Bebatuan di sepanjang pantai begitu mulus bagaikan betis dewi. Decak-decak bebunyian lautan seperti suara lembut yang terbang keluar dari celah bibir putri kayangan yang elok.

Aku sesungguhnya tak pernah puas dengan petualangan ini. Aku ingin menyingkap lebih dalam keindahan alam pantai ini. Sekitar beberapa meter dari bibir pantai ada segerombolan anak-anak ikan mengejekku. Gerak-gerik mereka seakan mengatakan,

"Ayo.. turunlah dari naungan batu itu, berenanglah bersama kami. Asyik lho berada di bawah air !" Aku hanya tertegun dari balik naungan batu itu sambil tersenyum. Lalu aku menjawab percakapan sunyi dengan kelompok anak ikan itu, "Coba kalu kamu mau, kamu yang melanjutkan catatan ini supaya aku bisa berenang". Tiba-tiba gerombolan anak ikan itu menceburkan dirinya ke tempat yang lebih dalam. Sambil mencak-mencak aku mengatakan kesalku, "Sialan.. kamu mengajakku untuk berenang kamu pula yang kabur duluan. Dasar anak ikan nakal".

Terik cahaya matahari tengah hari merongrong tempat naunganku di bawah batu ini. Aku menggeserkan tubuhku ke ruang batu itu semakin dalam. Keteduhan pantai itu membuatku tak ingin beranjak pergi. Aku sunguh mencintai laut ini. Apapun yang akan terjadi aku selalu ingin setia dengan laut. Aku tak ingin berhenti menulis laut dalam catatan harianku. Aku ingin menjadi laut.*

* (Dalam Keheningan Pantai) Mondo, 27 Maret 2013.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Post a Comment