Wednesday, December 11, 2013

Memaafkan, Hadiah Suatu Kebebasan



Memaafkan, Hadiah Suatu Kebebasan


Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta
murid-muridnya untuk membawa satu kantung
plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap
anak untuk memasukkan beberapa kentang di
dalamnya. Setiap anak, diminta untuk
memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang
yang tak mau mereka maafkan.

Mereka diminta untuk menuliskan nama
orang itu, dan mencantumkan tanggal di
dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki
kantung yang ringan, walau banyak juga yang
memiliki plastik kelebihan beban.

Mereka diminta untuk membawa kantung
bening itu siang dan malam. Kemana
saja, harus mereka bawa, selama satu minggu
penuh.

Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala
tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan
ditenteng saat berjalan. Lama-kelamaan
kondisi kentang itu makin tak menentu.

Banyak dari kentang itu yang membusuk dan
mengeluarkan bau yang tak sedap.
Hampir semua anak mengeluh dengan
pekerjaan ini.

Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.
Dan semua anak, agaknya banyak yang
memilih untuk membuangnya daripada
menyimpannya terus menerus.

Teman, pekerjaan ini, setidaknya,
memberikan hikmah spiritual yang
besar sekali buat anak-anak.
Suka-duka saat membawa-bawa kantung
yang berat, akan menjelaskan pada mereka,
bahwa, membawa beban itu, sesungguhnya
sangat tidak menyenangkan.

Memaafkan, sebenarnya, adalah
pekerjaan yang lebih mudah,
daripada membawa semua beban itu
kemana saja kita melangkah. Ini adalah
sebuah perumpamaan yang baik
tentang harga yang harus kita bayar
untuk sebuah kepahitan yang kita
simpan, dan dendam yang kita genggam
terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan
aroma yang tak sedap, bisa jadi, itulah nilai yang
akan kita dapatkan saat memendam amarah dan
kebencian.

Sering kita berpikir, memaafkan adalah
hadiah bagi orang yang kita beri maaf.
Namun, kita harus kembali belajar,
bahwa, pemberian itu, adalah juga
hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah,
untuk sebuah kebebasan.
Post a Comment