Wednesday, December 11, 2013

Anak Kecil Pemain Drum



Anak Kecil Pemain Drum
oleh Charlie Coulson
Saya seorang ahli bedah di Angkatan Tentara  Amerika Serikat sewaktu Perang Saudara. Sesudah Pertempuran Gettysburg, terdapat beratus-ratus prajurit yang terluka di rumah sakit tempat saya bertugas. Banyak yang harus diamputasi kaki atau lengannya karena luka-luka yang terlalu parah, dan ada kalanya kedua-duanya, harus diamputasi. Salah seorang dari mereka adalah seorang anak belasan tahun yang baru tiga bulan bergabung dengan angkatan tentara. Karena ia masih terlalu muda untuk menjadi seorang prajurit, ia didaftarkan sebagai pemain drum. Sewaktu para perawat mau memberikan obat bius sebelum operasi amputasi, ia membalikkan kepalanya dan menolak untuk menerimanya. Ketika mereka memberitahunya bahwa itu adalah perintah dari doktor, ia berkata, "Panggil doktor ke mari." Saya menghampiri tempat tidurnya dan berkata, "Anak muda, mengapa kamu menolak untuk menerima obat bius? Ketika saya menemukan kamu di medan pertempuran, saya hampir tidak mengangkat kamu karena kamu sudah sekarat. Tapi ketika kamu mencelikkan mata saya melihat matamu yang biru dan besar, terlintas di benak saya bahwa entah di mana seorang ibu sedang memikirkan anaknya. Saya tidak mau kamu mati di medan tempur, jadi saya membawa kamu ke sini. Tapi kamu sudah kehilangan terlalu banyak darah dan terlalu lemah untuk menjalani operasi ini tanpa obat bius. Sebaiknya kamu ijinkan saya untuk memberinya kepada kamu."
Ia meletakkan tangannya di atas tangan saya, memandang wajah saya dan berkata, "Doktor, pada suatu hari Minggu, ketika saya berumur sembilan setengah tahun, saya menyerahkan hidup saya kepada Kristus. Sejak itu saya belajar untuk mempercayaiNya, saya tahu saya dapat mempercayaiNya sekarang. Ialah kekuatanku, Ia akan menopang saya saat kamu memotong lengan dan kaki saya." Saya bertanya apakah ia mau meminum sedikit minumum keras untuk meringankan rasa sakitnya. Sekali lagi ia memandang saya dan berkata, "Doktor, ketika saya berumur sekitar 5 tahun, ibu saya berlutut di samping saya seraya merangkul saya dan berkata, "Charlie, saya berdoa kepada Yesus agar kamu tidak akan pernah mencicipi setetespun minuman keras. Bapamu mati karena ia seorang pemabuk, dan saya telah meminta Allah untuk memakai kamu untuk memperingatkan orang lain tentang bahaya minuman keras, dan untuk mendorong mereka agar mengasihi dan melayani Tuhan." Saya sekarang berusia 17 tahun, dan saya tidak pernah meminum minuman yang lebih keras dari teh atau kopi. Kemungkinan saya mati dan bertemu dengan Tuhan sangatlah tinggi. Apakah kamu mau mengutus saya ke sana dengan mulut yang berbau minuman keras?" Saya tidak akan pernah melupakan pandangan anak kecil itu saat ia menatap saya pada waktu itu. Pada waktu itu, saya membenci Yesus, tapi saya menghormati kesetiaan anak kecil itu kepada Juruselamatnya. Dan tatkala saya melihat betapa ia mengasihi dan mempercayaiNya sampai pada akhirnya, sesuatu menyentuh hati saya. Saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan untuk prajurit yang lain - saya bertanya apakah ia mau bertemu dengan pendetanya.
Pendeta resimen sangat mengenal anak kecil itu karena ia sering mengikuti pertemuan-pertemuan doa di kamp. Ia memegang tangannya dan berkata, "Charlie, saya kasihan melihat keadaan kamu seperti ini." "Oh, saya tidak apa-apa, pak," jawab Charlie. "Doktor telah menawarkan obat bius kepada saya, tapi saya memberitahunya saya tidak membutuhkannya. Lalu ia mau memberikan kepada saya minuman keras, yang juga saya tolak. Jadi sekarang, jika saya dipanggil Juruselamat saya, saya dapat pergi dengan akal budi yang waras dan sehat." "Kamu tidak boleh mati, Charlie," kata pendeta, "tapi jika Tuhan memanggil kamu pulang, apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan bagimu?" "Pak Pendeta, tolong ambilkan Alkitab yang ada di bawah bantal. Alamat ibu saya ada di dalam dan tuliskan surat kepadanya. Beritahu dia bahwa sejak saya meninggalkan rumah, tidak ada satu haripun - apakah ketika saya sedang berbaris di lapangan, di medan tempur, atau di rumah sakit - yang berlalu tanpa saya membaca sebagian kecil Firman Allah, dan setiap hari berdoa agar Tuhan memberkati dia." "Apakah ada hal lain yang dapat saya lakukan bagimu, anakku?" tanya Pak Pendeta. "Ya, tolong tuliskan surat kepada guru sekolah Minggu di Gereja Sands Street di Brooklyn, New York. Beritahu dia bahwa saya tidak pernah melupakan dorongan, nasihat dan doa-doanya bagi saya. Mereka telah membantu saya dan menghiburkan saya selama saya melewati mara bahaya di medan pertempuran. Dan sekarang, di saat-saat menjelang kematian saya, saya bersyukur kepada Tuhan untuk guru tua yang sangat saya kasihi, dan meminta Tuhan agar memberkati dan menguatkan dia. Itu saja."
Lalu, ia menoleh kepada saya, lalu berkata, "Saya siap doktor. Saya berjanji saya tidak akan mengerang ketika anda memotong lengan dan kaki saya, jika anda tidak menawarkan saya obat bius." Saya berjanji, tapi saya sendiri tidak memiliki nyali untuk mengangkat pisau bedah tanpa terlebih dahulu masuk ke kamar saya dan meminum sedikit minuman keras. Ketika memotong dagingnya, Charlie Coulson tidak pernah mengerang kesakitan. Tapi ketika saya mengambil gergaji untuk mengergaji tulangnya, ia menggigit hujung bantalnya dan saya dapat mendengarnya berbisik, "O Yesus, Yesus! Sertailah aku sekarang." Ia memenuhi janjinya; ia tidak pernah mengerang sama sekali. Malam itu saya tidak dapat tidur. Tidak kira ke arah mana saya berpaling, saya melihat mata birunya yang lembut itu. Kata-katanya, "Yesus, sertailah aku sekarang", terus berdengung di telinga saya. Sedikit melewati tengah malam, saya akhirnya meninggalkan tempat tidur saya dan mengunjungi rumah sakit - sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelum itu melainkan terdapat kasus gawat darurat. Saya mempunyai satu kerinduan yang kuat dan aneh untuk melihat anak itu. Ketika saya tiba di situ, saya diberitahu oleh perawat bahwa 16 dari prajurit yang luka parah sudah meninggal dunia. "Apakah salah seorang darinya Charlie Coulson?" saya bertanya. "Tidak, pak," ia menjawab, "Charlie sedang tidur manis seperti bayi." Bila saya mendekati tempat tidurnya, salah seorang perawat memberitahu saya bahwa sekitar jam 9 malam, dua anggota YMCA mengunjungi rumah sakit dan menyanyikan lagu-lagu himne. Pak Pendeta menyertai mereka. Ia berlutut di samping tempat tidur Charlie dan menaikkan doa yang berapi-api dan menyentuh jiwa. Lalu, tetap dalam keadaan berlutut, mereka menyanyikan lagu "Yesus, kekasih jiwaku." Charlie nyanyi bersama mereka. Saya tidak dapat mengerti bagaimana anak itu, yang dalam kesakitan yang begitu amat, dapat menyanyi.
Lima hari setelah saya melakukan operasi tersebut, Charlie memanggil saya, dan dari dialah saya pertama kali mendengar pesan Injil. "Doktor," ia berkata, "waktu saya sudah hampir tiba. Saya tidak mungkin dapat melihat matahari terbit besok. Saya mau mengucapkan terima kasih dengan segenap hati saya untuk kebaikan kamu. Saya tahu kamu seorang Yahudi, dan bahwa kamu tidak percaya pada Yesus, tapi saya mau kamu tetap tinggal bersama saya dan melihat saya mati dan terus mempercayai Juruselamat saya hingga ke saat-saat terakhir hidup saya." Saya coba untuk tetap bersamanya, tapi saya tidak dapat. Saya tidak punya nyali untuk berdiri di situ melihat seorang anak Kristen bersukacita dalam kasih Yesus yang saya benci, di saat maut menjemputnya. Jadi saya dengan terburu-buru meninggalkan kamar itu. Sekitar 20 menit kemudian, seorang perawat menemukan saya di kamar dengan tangan saya menutupi wajah saya. Ia memberitahu saya bahwa Charlie mau bertemu dengan saya. "Saya baru saja menjenguknya tadi," saya menjawab, "dan saya tidak dapat melihatnya lagi." "Tapi doktor, ia berkata ia harus melihat kamu sekali lagi sebelum ia mati." Jadi saya memutuskan untuk pergi dan bertemu dengan Charlie, mengucapkan sedikit kata-kata kasih sayang dan membiarkan dia mati. Bagaimanapun, saya bertekad bahwa tidak ada apapun yang dia katakan tentang Yesus-nya itu yang akan mempengaruhi saya. Ketika saya masuk kembali ke rumah sakit, saya melihat bahwa fisiknya sedang melemah dengan cepat sekali, jadi saya duduk di sampingnya. Ia meminta saya memegang tangannya, ia berkata, "Pak doktor, saya mengasihi kamu karena kamu seorang Yahudi. Teman saya yang paling akrab di dunia ini adalah seorang Yahudi." Saya bertanya, siapa teman akrabnya itu, dan ia menjawab, "Yesus Kristus, dan saya mau memperkenalkan kamu kepadaNya sebelum saya mati. Hendakkah kamu berjanji bahwa apa yang akan saya katakan kepada kamu, tidak akan kamu lupakan?" Saya berjanji, dan ia berkata, "Lima hari yang lalu, ketika Pak doktor memotong kaki dan lengan saya, saya berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus dan meminta Dia untuk menunjukkan kasihNya kepada kamu." Kata-kata itu sangat menyentuh hati saya. Saya tidak mengerti bagaimana, di saat saya sedang mengakibatkan rasa sakit yang begitu dahsyat pada dirinya, ia dapat melupakan dirinya dan tidak memikirkan apa-apa kecuali Juruselamat-nya dan jiwa saya yang belum bertobat. Yang dapat saya ucapkan pada dia adalah, "Baiklah, anakku sayang, kamu akan segera sembuh." Dengan kata-kata itu saya meninggalkan dia, dan sekitar 12 menit setelah itu, ia tertidur, "aman di dalam pelukan Yesus."
Beratus-ratus prajurit mati di rumah sakit saya sepanjang perang itu, tapi saya hanya menghadiri satu pemakaman, yaitu pemakaman Charlie Coulson. Saya bersepeda sejauh 3 batu untuk melihat ia dikuburkan. Saya mengenakan pakaian seragam yang baru pada tubuhnya dan menempatkan dia dalam peti jenazah khusus untuk perwira, dan menutupi peti itu dengan bendera Amerika Serikat. Kata-kata terakhir dari anak ini meninggalkan satu kesan yang mendalam dalam diri saya. Saya kaya pada waktu itu, namun saya lebih dari rela untuk menyerahkan segala kekayaan saya untuk dapat merasakan perasaan yang Charlie miliki terhadap Kristus. Tapi perasaan tersebut tidak dapat dibeli dengan uang. Tidak lama setelah itu saya melupakan khotbah prajurit Kristen ini tapi saya tidak dapat melupakan orangnya. Memandang ke belakang, saya sekarang tahu bahwa pada waktu itu saya berada di bawah cengkeraman rasa bersalah yang sangat mendalam.  Selama hampir 10 tahun saya melawan Kristus dengan segala kebencian seorang Yahudi Ortodoks, sehingga pada akhirnya doa anak kecil tercinta ini terjawab, dan saya menyerahkan hidup saya kepada kasih Yesus.
Sekitar satu setengah tahun setelah pertobatan saya, saya menghadiri satu persekutuan doa pada suatu sore di daerah Brooklyn. Dalam pertemuan ini, orang-orang Kristen sering menyaksikan tentang kasih sayang Tuhan. Setelah beberapa orang selesai menyaksikan pengalaman mereka, seorang perempuan tua berdiri dan berkata, "Teman-teman yang kukasihi, ini mungkin kali terakhir saya membagikan tentang kebaikan Tuhan kepada kalian. Kemarin doktor memberitahu saya bahwa paru-paru kanan saya sudah hampir rusak dan, dan paru-paru kiri juga demikian, saya hanya tinggal waktu yang sedikit bersama kalian. Namun apa yang tersisa pada saya semuanya milik Yesus. Satu sukacita yang besar bagi saya karena tidak lama lagi saya akan bertemu dengan anak saya bersama Yesus di surga. Charlie bukan hanya seorang prajurit bagi negaranya tapi juga seorang prajurit Kristus. Ia terluka di pertempuran di Gettysburg, dan dirawat oleh seorang doktor Yahudi, yang mengamputasi kaki dan lengannya. Ia mati 5 hari telah operasinya.  Pendeta resimennya menulis surat kepada saya dan mengirimkan Alkitab anak saya. Saya diberitahu bahwa di saat-saat menjelang kematiannya, Charlie memanggil doktor Yahudi tersebut dan berkata kepada dia, "Lima hari yang lalu, ketika kamu memotong kaki dan lengan saya, saya berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus bagimu."
Seraya saya mendengar perempuan tua itu berbicara, saya tidak dapat berdiam diri. Saya meninggalkan tempat duduk saya, berlari ke arahnya dan memegang tangannya dan berkata, "Tuhan memberkati engkau, saudari yang terkasih. Doa anakmu sudah didengar dan terjawab! Sayalah doktor Yahudi yang didoakan Charlie, dan sekarang Juruselamat-nya adalah Juruselamat saya juga! Kasih Yesus telah memenangkan jiwa saya!"
Sumber: Dikutip dari buku yang tidak lagi dicetak yang berjudul "Touching Incidents and Remarkable Answers to Prayer." (Peristiwa yang Menyentuh Hati dan Jawaban-jawaban Doa Yang Ajaib)

Post a Comment