Wednesday, December 11, 2013

Hidup yang Bergema



Hidup yang Bergema
oleh Jim Elliot
Di manapun engkau berada, letakkanlah hatimu di sana.
Jalanilah sepenuhnya setiap keadaan yang
kau yakini sebagai kehendak Allah
Kehidupan dan kematian Jim Elliot adalah suatu kisah kesaksian tentang orang yang memiliki komitmen pada kehendak Allah. Ia selalu mencari, mengharapkan, menanti dan - yang terpenting - mentaati kehendak Allah.
Ia meninggal sebagai martir pada usia 28 tahun, dan buku-buku tentang kehidupan Elliot yang ditulis oleh istrinya, Elisabeth Elliot, telah memicu gelombang pengiriman ribuan penginjil ke ladang-ladang penginjilan dan menggelorakan api semangat pengabdian bagi Allah. Ia adalah seorang Kristen yang penuh dengan semangat, dan memusatkan perhatiannya hanya untuk menyenangkan hati Allah, bukannya manusia.
 "[Ia membuat] pelayan-pelayannya menjadi nyala api," Elliot menulis ketika ia masih kuliah di Wheaton College. "Dapatkah semangat saya terbakar? Tuhan, bebaskan saya dari keadaan seperti asbes yang tak mau menyala. Mengguyur saya dengan minyak dari Roh sehingga saya dapat terbakar. Namun nyala api itu bersifat sementara, biasanya berumur pendek. Dapatkah kamu menghadapi umur yang pendek ini - hai jiwaku? Di dalam diriku, berdiam roh dari Si Umur Pendek yang perkasa, cintanya kepada Allah telah menghanguskan-Nya."
Elliot adalah seorang penulis, pengkhotbah dan pengajar yang berbakat. Ia memiliki penampilan yang berwibawa ketika kuliah di Wheaton, bahkan menjadi bintang di lapangan gulat di mana ia menjadi juara.
Banyak sahabatnya yang yakin bahwa karunia rohani yang ada pada Elliot seharusnya diarahkan untuk membangun gereja di Amerika.
Akan tetapi, Elliot hanya menghendaki kehendak Allah, bukannya kehendak manusia. Sesudah melalui masa-masa doa pribadi yang lama, Elliot merasakan panggilan Allah untuk melayani di luar negeri, khususnya di Amerika Selatan. "Mengapa ada yang perlu mendengar dua kali," katanya, "padahal yang lain belum pernah mendengar sekali?"
Melalui korespondensinya dengan seorang bekas misionaris ke Ekuador, terdengar berita tentang adanya suku - orang Aucas - yang masih belum terjangkau kabar penebusan Kristus. Ini mendorongnya untuk menentukan sasaran baru. Di musim dingin 1952, Elliot dan seorang teman yang mendapat visi yang sama berlayar dengan kapal barang menuju Amerika Selatan.
Fokus kepada Ketaatan
Fokus Elliot kepada ketaatan atas kehendak Allah membawanya pada sikap yang disiplin dan agak unik terhadap Betty Howard, kekasihnya sejak di Wheaton. Mereka rindu menjadi suami-istri, akan tetapi Elliot berkeras untuk menunggu sampai mendapat kepastian bahwa itu memang rencana Allah.
Elisabeth dan Jim sama-sama mendapat panggilan sebagai misionaris ke Ekuador. Setelah hampir setahun sesudah kedatangan mereka di sana, akhirnya mereka menjalankan pertunangan. Tanggal 8 Oktober 1953, mereka menikah di Quito, Ekuador.
Sesudah pernikahan mereka, Elliot melanjutkan pelayanannya di tengah suku indian Quichua dan menyusun rencana untuk menjangkau suku Aucas.
Pada musim gugur 1955, pilot lembaga misionaris itu, Nate Saint, berhasil menemukan sebuah perkampungan suku Aucas. Pada bulan-bulan berikutnya, Elliot dan para misionaris yang lain menjatuhkan bungkusan hadiah-hadiah dari atas pesawat, berusaha untuk menarik hati suku yang masih ganas ini.     
Pada bulan Januari 1956, Elliot dan empat orang rekannya mendarat di tepi sungai Curaray, bagian timur Ekuador. Mereka berhasil mengadakan beberapa kali pertemuan yang bersahabat dengan suku yang sudah menewaskan banyak petugas dari perusahaan minyak Shell Oil.
Dua hari kemudian, 8 Januari 1956, kelima orang itu ditombak dan ditetak sampai mati oleh pejuang-pejuang suku Aucas. Majalah Life menyajikan artikel sepanjang sepuluh halaman tentang pelayanan dan kematian mereka.
"Mereka mempelajari kehidupan suku Aucas sambil melayani suku Quichua dan Jivaro bersama istri-istri mereka. Orang-orang Aucas selalu membunuh orang asing selama berabad-abad."
"Suku indian yang lainnya takut kepada mereka akan tetapi para misionaris ini nekat mendatangi mereka. Elliot berkata, 'Perintah bagi kami adalah: Injil bagi setiap mahluk.'"
Kehendak Allah yang Baik
Elliot ingin menjalankan kehendak Allah. Dan pencariannya ini berakhir dengan kematian, akan tetapi ini adalah kematian sebiji benih yang kemudian menghasilkan banyak buah bagi pekabaran injil.      
Banyak anggota suku Aucas akhirnya menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka ketika Elisabeth Elliot dengan berani mendatangi dan membagikan Injil kepada suku yang telah membunuh suaminya itu. Buku tulisan      Elisabeth, Shadow of The Almighty (Lindungan Sang Mahakuasa) dan Through Gates of Splendor (Melalui Gerbang Kemegahan), dengan penuh semangat menyampaikan tentang kuasa, keagungan dan kedaulatan Allah dalam menangani kehidupan suaminya.    
Mungkin anda tidak terpanggil untuk melayani di ladang penginjilan, akan tetapi setiap orang Kristen dipanggil untuk masuk ke dalam suatu pertualangan yang menyenangkan yaitu memahami dan menjalankan kehendak Allah. Inilah bagian yang menegangkan di dalam kehidupan kekristenan - mengalami Allah sebagai pusat dari setiap tindakan, pikiran dan perbuatan anda.
Apakah anda sedang mencari kehendak Allah bagi hidup anda? Inilah akar dari segala berkat - bagi keluarga, pekerjaan, keuangan, persahabatan, pelayanan dan kehidupan pribadi anda. Kehendak Allah adalah yang terbaik.     
Prosesnya tidak selalu mudah, akan tetapi Allah bersedia untuk mengungkapkan rencana-Nya kepada orang-orang yang menginginkan Dia lebih dari segalanya dan bersukacita di dalam Dia. Ini berarti anda perlu mengesampingkan rencana pribadi anda dan meminta Allah untuk "mengerjakan di dalam anda baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" (lihat Filipi 2:13).     
Ada kalanya kita harus bersabar menunggu saat yang ditentukan Allah. Pasangan suami-istri Elliot menunggu sampai lima tahun sebelum mendapat keyakinan dari Allah bahwa sudah saatnya mereka masuk dalam ikatan pernikahan.     
Mendekatlah kepada Allah. Akuilah dan bertobatlah dari dosa-dosa. Tempatkan hati dan roh anda di dalam ketenangan, dan katakan kepada Allah bahwa keinginan anda hanya satu yaitu menjadi alat di tangan-Nya. Nantikanlah tanggapan-Nya lewat peristiwa-peristiwa, Firman-Nya, ataupun melalui nasehat dari saudara-saudara Kristen yang lebih dewasa secara rohani. Ia akan menyatakan kepada anda tentang apa yang dikehendaki-Nya, karena Ia mengasihi anda.     
Anda akan mampu untuk menjalani hidup "sampai ke titik yang paling mustahil" sejalan dengan pencarian dan ketaatan anda kepada kehendak Allah.

Post a Comment