Sunday, February 26, 2012

renungan

renungan hari ini
Ketika Jalan itu terasa berat
Mazmur 23:3 ; 63:3



23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”

63:3 Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.”


Sendi – sendi tulangku sudah terasa mau copot, otot – otot kakiku sudah terasa pegal dan pinggangku sudah mau patah. Padahal aku dan ayahku baru berjalan sekitar satu kilometer saja. Tetapi, untuk anak seusiaku yang saat itu baru menginjak 8 tahun, berjalan satu kilometer sudah terasa berat. Ketika aku melihat ke depan, akupun bertanya kepada ayahku, “masih jauh ya yah??? Apa  jalannya semua berbatu???”
Ketika aku melihat ayahku, dia berkata sambil tersenyum, “ayo jalan terus, pelan – pelan saja. Kesini kamu Ayah gandong.” Aku pun menjadi kuat kembali, rasanya ada tambahan tenaga yang tiba – tiba datang di tubuh ku. Akhirnya , kami pun tiba di rumah kakek. Sekarang aku tahu mengapa waktu itu aku hanya merasa capek, itu karena perhatianku terpusat kepada jauh dan beratnnya perjalanan yang harus ku tempuh. Dan aku juga tahu mengapa waktu itu aku menjadi kuat kembali, itu karena aku melihat ayahku dengan senyuman kasih sayangnya dan tangan yang terulur untuk menggandengku.
Pengalaman masa kecilku itu merupakan gambaran perjalan hidup orang percaya. Kadang – kadang orang percaya merasakan betapa jauh dan lamanya perjalanan untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Bahkan perjalan itu terasa sangat berat karena jalan yang tidak rata. Bangsa Israel, ketika mengadakan perjalanan ke Kanaan, seringkali mengeluh karena beratnya medan yang harus mereka tempuh.
Hingga suatu saat mereka berkata : “mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak – anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir???” ( Bil 14:3 )
Mereka hanya fokus pada jauh dan beratnya perjalanan. Mereka lupa bahwa Tuhan yang mereka kecam itu sanggup dan mau mengulurkan tangan-Nya untuk menuntun mereka, sehingga mereka tak akan tergeleta. Seharusnya mereka memandang Tuhan yang menyertai mereka dengan tiang awan dan tiang api-Nya. Mereka tidak akan kepanasan di siang hari karena ada tiang awan, mereka tidak tersesat pada malam hari karena ada tiang api. Daud pun sebenarnya juga mengalami hal yang sama, sampai dia bertanya kepada Tuhan, “berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku???”
( Mazmur 13:3 )
Tetapi, akhirnya Daud bisa melihat Tuhan yang setia menyertai di dalam perjalanan hidupnya. Keyakinan ini yang membuat Daud berani menapaki jalan hidupnya sekalian dia harus berjalan di lembah kekelaman.
Mungkin saat ini anda juga sedang merasakan beratnya perjalanan hidup anda, seakan – akan tidak sampai ke tujuan yang di dambakan. Jangan fokus hanya pada masalah yang semakin membuat anda gelisah. Sadar dan rasakan bahwa Tuhan sedang mengulurkan tangan – Nya untuk menuntun anda menempuh perjalanan itu.
“Thank’s God”

From : Mansor
Post a Comment